BI: Kebijakan Moneter 2019 Preemptif dan Ahead the Curve

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo ditemui usai mengikuti salat Jumat di Kompleks Bank Indonesia, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat, 19 Oktober 2018. TEMPO/Dias Prasongko

    Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo ditemui usai mengikuti salat Jumat di Kompleks Bank Indonesia, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat, 19 Oktober 2018. TEMPO/Dias Prasongko

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur BI Perry Warjiyo memaparkan rencana kebijakan moneter bank sentral pada 2019 di hadapan Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Menurut Perry, pada 2019, BI akan fokus pada kebijakan untuk menjaga stabilitas khususnya pengendalian inflasi dan juga menjaga nilai tukar rupiah.

    Baca juga: Jokowi Apresiasi Taring BI Keluar Jaga Stabilitas Rupiah

    "Stance kebijakan preemptif dan ahead the curve akan kami pertahankan, khususnya untuk menjaga rupiah dari ekonomi global," kata Perry saat berpidato dalam acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia atau PTBI di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta Selatan, Selasa, 27 November 2018.

    Kebijakan ahead the curve maksudnya mengantisipasi atau mendahului situasi. Misalnya, BI mendahului kemungkinan The Fed menaikkan suku bunganya.

    Hari ini BI kembali mengelar Pertemuan Tahunan Bank Indonesia atau PTBI. Pertemuan tahunan 2018 digelar dengan mengambil tema "Sinergi untuk Ketahanan dan Pertumbuhan."

    Dalam acara ini, selain Gubenur Bank Indonesia dan Presiden Joko Widodo alias Jokowi, hadir para menteri kabinet kerja, kepala daerah, pengamat ekonomi, pelaku industri keuangan, perbankan hingga pimpinan redaksi media massa.

    Menurut Perry, tahun depan BI akan menjaga sekaligus memperkuat bauran kebijakan yang selama ini telah dikeluarkan. Ia mengatakan inflasi pada tahun depan tetap akan dijaga supaya bisa stabil para range angka 3,5 persen plus minus 1 persen.

    Perry menuturkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI akan terus melakukan intervensi ganda baik di pasar surat berharga negara (SBN) maupun di pasar valas. Selain itu, BI akan terus mengembangkan kerjasama swap dengan bank sentral negara lain untuk menjaga kondisi nilai tukar rupiah sekaligus menjaga angka kecukupan cadangan devisa.

    "Pada tahun 2019 kami perkirakan pergerakan rupiah akan bergerak stabil sesuai mekanisme pasar," kata Perry.

    Perry melanjutkan mekanisme pasar terhadap stabilitas nilai tukar terus itu akan didorong tanpa mengurangi intervensi. Kecukupan likudiitas akan kami terus jaga dengan kebijakan penguatan lewat akselarasi pendalaman pasar uang transaksi domestik non-deliverable forward (NDF).

    Adapun stabilitas sistem keuangan dijaga serta mempertahankan momentum kenaikan pertumbuhan kredit perbankan tahun 2019. Sedangkan, kinerja ekonomi domestik juga akan dukung kelancaran sistem pembayaran baik tunai maupun non-tunai.

    Selain itu, untuk menjaga momentum dan mengangkat pertumbuhan ekonomi, BI akan mengeluarkan kebijakan akomodatif khususnya di bidang makro prudensial dan sistem keuangan syariah. Ke depan, BI akan terus mendorong keuangan syariah untuk menjadi sumber keuangan baru.

    "Di pasar keuangan syariah, kami akan menerbitkan sukuk BI dan turut mendorong pemberdayaan zakat dan wakaf produktif," kata Perry.

    Semua rencana BI tersebut, kata Perry, akan dilakukan supaya sejalan untuk menjaga kondisi defisit transaksi berjalan atau current account defisit berada di area terkendali.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.