Prabowo Sebut Ekonomi RI Tak Cukup Dapat Nutrisi

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon presiden Prabowo Subianto menghadiri Indonesia Economic Forum di Hotel Shangrilla, Jakarta, Rabu, 21 November 2018. TEMPO/Budiarti Utami Putri.

    Calon presiden Prabowo Subianto menghadiri Indonesia Economic Forum di Hotel Shangrilla, Jakarta, Rabu, 21 November 2018. TEMPO/Budiarti Utami Putri.

    TEMPO.CO, Jakarta - Calon presiden Prabowo Subianto hadir dalam acara Indonesia Economic Forum atau IEF di Shangrilla Hotel, Rabu, 21 November 2018. Dalam acara tersebut Prabowo hadir dan memberikan pidatonya yang berjudul "The Path Ahead for Indonesia."

    Baca: Hadiri IEF, Prabowo: Saya Jarang Dapat Undangan Seperti Ini

    Dalam pidatonya, Prabowo menyampaikan bahwa kondisi ekonomi sebuah negara ibarat kondisi tubuh manusia. Karena itu, menurut Prabowo, jika kondisi tubuh bisa dijaga, maka tentunya bisa ikut menjaga kondisi kesehatan.

    "Jika sistem tubuh itu tidak berfungsi, harus lakukan check up, cek darah, untuk mengetahui penyebabnya. Begitu pula dalam konteks ekonomi suatu negara," kata Prabowo saat memberikan pidatonya.

    Prabowo mencontohkan beberapa hal yang bisa menunjukkan bagaimana kondisi ekonomi Indonesia saat ini tak cukup mengembirakan. Misalnya, angka Human Development Index atau HDI yang masih kalah dengan Singpura, Malaysia dan Thailand.

    Selain itu, Prabowo juga merujuk pada peringkat Indonesia dalam The Programme for International Student Assessment (PISA). Khususnya di bidang matematika dan juga ilmu pengetahuan atau science.

    Tak hanya itu, mantan Komandan Komando Pasukan Khusus atau Kopassus ini juga menyatakan bahwa meski GDP Indonesia cukup tinggi sayangnya belum mencerminkan kondisi ekonomi yang baik. Salah satunya ditunjukkan oleh rasio Gross National Income (GNI) dengan Gross Domestic Product (GDP).

    Pada 2017, data menunjukkan bahwa rasio GNI to GDP berada di peringkat 169 atau sekitar 92 persen. Angka ini, kata Prabowo masih kalah dari negara tetangga seperti Filipina, Malaysia, Singapura dan Vietnam.

    Kemudian, Prabowo juga menyinggung banyak orang yang salah memahami mengenai GDP. Seolah-olah GDP adalah salah indikator yang menunjukkan keberhasilan ekonomi dan juga menggambarkan produksi dari masyarakat Indonesia. Padahal GDP berarti produksi yang di lakukan di Indonesia bukan diproduksi oleh orang-orang Indonesia itu sendiri.

    "Ini kondisi yang mengkhawatirkan, inilah kondisi yang menggambarkan bahwa tubuh-tubuh itu tidak mendapatkan nutrisi yang cukup," kata Prabowo.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sepak Terjang Artidjo Alkostar Si Algojo Koruptor

    Artidjo Alkostar, bekas hakim agung yang selalu memperberat hukuman para koruptor, meninggal dunia pada Ahad 28 Februari 2021. Bagaimana kiprahnya?