Pengembangan Terminal LCC Bandara Soekarno-Hatta Butuh Tiga Tahun

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi meninjau Pesawat Lion Air PK-LQM di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Ahad, 4 November 2018. Tempo/Caesar Akbar

    Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi meninjau Pesawat Lion Air PK-LQM di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Ahad, 4 November 2018. Tempo/Caesar Akbar

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Angkasa Pura II (persero) menyatakan pengembangan terminal khusus penerbangan murah (low cost carrier/LCC) di Bandara Soekarno-Hatta, Banten, akan rampung dalam tiga tahun. Rencana itu berjalan bersamaan dengan proyek revitalisasi bandara yang dimulai sejak akhir tahun ini.

    Baca: Megaproyek Bandara Soekarno - Hatta II Dimulai 2021

    Direktur Utama Angkasa Pura II, Muhammad Awaluddin, mengatakan penataan ditujukan ke Terminal 1 dan Terminal 2 di Soekarno-Hatta. "Setiap tahun kami revitalisasi dua sub terminal, sekarang sudah berjalan di 1-C dan 2-F," ucapnya kepada Tempo, Selasa 20 November 2018.

    Berbeda dengan Terminal 3 yang memberi pelayanan penuh, ucap Awaluddin, servis penumpang di Terminal 1 dan 2 akan mengutamakan aspek kemandirian dan kecepatan. "Ruangnya akan dominan diisi tempat self check-in, atau juga mengurus boarding sendiri."

    Menurut dia, pembagian segmen LCC dan non-LCC di Soekarno-Hatta sejalan dengan rencana pengembangan kapasitas bandara.
    Kapasitas masing-masing Terminal 1 dan 2 kini mencapai 9 juta penumpang per tahun. Padahal, Awaluddin menurutkan, volume pergerakan total penumpang di kedua terminal sudah di angka 42 juta per tahun.

    "Kapasitasnya total 18 juta tak sebanding dengan derasnya penumpang," tuturnya. "Karena sedang kami perbesar, sekalian saja ditata segmennya."

    Pemerintah sebelumnya mendorong para operator bandara meningkatan layanan untuk LCC. Regultor beralasan bahwa penerbangan murah sangat digemari wisatawan.

    Dengan target menarik 20 juta kunjungan pelancong asing pada 2019, sektor pariwisata dijadikan bantalan untuk menjaga keuangan negara di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pendapatan dari pariwisata pun ditargetkan bisa menghasilkan devisa hingga Rp 280 triliun pada 2019, naik dari target Rp 223 triliun sampai akhir tahun ini.

    "Kami menyetujui konsep segmentasi terminal bandara karena volume penumpang LCC memang jauh melebihi penerbangan full service," ujar Awaluddin.

    PT Angkasa Pura II sudah mengaloksikan Rp 3,7 triliun untuk pengembangan total enam sub terminal di dua terminal utama. Tanpa merincikan, Awaluddin menyebut perusahaannya sudah menunjuk pemenang tender proyek revitalisasi Terminal 1C dan 2F. "Rencana pembangunan Terminal 4 Soekarna-Hatta juga akan memasuki fase desain. Belum diputuskan penggunaannya untuk LCC atau servis penuh," katanya.

    Public Relation Manager AP II, Yado Yarismano, mengatakan tiga terminal utama Bandara Soekarno-Hatta diproyeksi bisa menampung minimal 61 juta penumpang pada 2020. "Revitalisasi dua terminal berupa pembaharuan fasilitas agar dilengkapi teknologi terkini."

    Staf Khusus Menteri Pariwisata Bidang Aksesibilitas, Judi Rifajantoro, mengatakan pertumbuhan penumpang LCC di Indonesia belum secepat negara lain. Dia mencontohkan Jepang yang volume penumpang penerbangan murahnya tumbuh 40 persen, sementara Indonesia baru 16 persen. "Jepang sudah punya terminal LCC di empat kota besar," katanya kepada Tempo.

    Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi pun menginstruksikan PT Angkasa Pura 1 (persero) mengikuti jejak pesaingnya dalam pengembangan terminal LCC. "Saya rasa Bandara Bali cocok untuk itu."

    Adapun Direktur Pengembangan Usaha PT Angkasa Pura I, Sardjono Jhony Tjitrokusumo, mengatakan perseroannya belum memiliki rencana tersebut. "Tapi, maskapai LCC juga sudah beroperasi di bandara-bandara kami," ucapnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 17 Hari dalam Daftar Libur Nasional dan Sisa Cuti Bersama 2021

    SKB Tiga Menteri memangkas 7 hari cuti bersama 2021 menjadi 2 hari saja. Pemotongan itu dilakukan demi menahan lonjakan kasus Covid-19.