Wilmar: Greenpeace Memaksa Kami Membuka Peta Konsesi

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Enam aktivis Greenpeace ditangkap setelah menaiki sebuah tanker yang mengangkut minyak sawit Indonesia di Teluk Cadiz, Spanyol. kredit photo: greenpeace

    Enam aktivis Greenpeace ditangkap setelah menaiki sebuah tanker yang mengangkut minyak sawit Indonesia di Teluk Cadiz, Spanyol. kredit photo: greenpeace

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Wilmar Nabati Indonesia, bagian dari Grup Wilmar, mempertanyakan tuduhan dari organisasi lingkungan hidup, Greenpeace, bahwa minyak sawit produksi perusahaan tersebut berkontribusi pada kerusakan 70 ribu hektare hutan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

    Baca: Greenpeace Hentikan Kerja Sama dengan APP dan Sinar Mas

    "Kami sangat yakin minyak sawit yang kami produksi adalah minyak sawit yang bebas deforestasi (penebangan hutan)," kata Komisaris Utama PT Wilmar Nabati Indonesia Master Parulian Tumanggor saat dikonfirmasi di Jakarta, Senin, 19 November 2018.

    Master balik mengatakan bahwa tuntutan sebenarnya dari Greenpeace adalah memaksa Wilmar untuk membuka semua peta konsesi pemasok bahan baku ke perusahaan, termasuk semua peta izin lokasi. Inilah yang menjadi masalah, kata dia, sebab izin lokasi hanya dapat dipublikasikan dengan persetujuan dari Bupati setempat. "Karena merekalah yang mengeluarkan izin lokasi."

    Wilmar, kata Master, tidak dapat mempublikasikan peta konsesi karena menyalahi aturan hukum yang berlaku di Indonesia. "Inilah sebenarnya alasan utama dari Greenpeace terus melakukan kampanye negatif terhadap Wilmar, bukan karena komitmen no-deforestation yang telah kami laksanakan." Menurut dia, sangat penting bagi Pemerintah Indonesia untuk turun tangan dalam menanggapi permintaan Greenpeace tersebut.

    Sebelumnya, enam aktivis dari Greenpeace naik ke atas Kapal Stolt Tenacity di perairan Teluk Cadiz, di dekat Spanyol. Kapal itu membawa minyak sawit dari kilang penyulingan Wilmar di Dumai, Riau. Enam aktivis tersebut juga membentangkan spanduk bertuliskan "Save Our Rainforest dan Drop Dirty Palm Oil." Tidak diketahui bagaimana cara keenam aktivis naik ke atas kapal kargo ini. Namun, saat ini, keenamnya dikabarkan telah ditahan oleh awak kapal kargo.

    Juru kampanye di kapal Greenpeace Esperanza Hannah Martin, dalam keterangannya pada Minggu, 18 November 2018, mengatakan, pihaknya memiliki keterbatasan kontak radio dengan sukarelawan yang ditangkap. Dia berujar, Greenpeace juga telah meminta kapten kapal untuk membebaskan relawan.

    Greenpeace menyatakan, Wilmar adalah pemasok utama minyak sawit untuk perusahaan makanan ringan Mondelez. Perusahaan itu merupakan salah satu pembeli minyak sawit terbesar di dunia untuk digunakan pada banyak produknya terkenal seperti biskuit Oreo, cokelat Cadbury, dan biskuit Ritz.

    Investigasi Greenpeace International menemukan, pemasok minyak sawit Mondelez telah menghancurkan 70.000 hektare hutan di seluruh Asia Tenggara dalam dua tahun. Greenpeace menemukan bukti ihwal persoalan kebakaran hutan, mempekerjakan anak-anak, eksploitasi pekerja, penebangan ilegal hingga perampasan tanah.

    Master juga telah menyampaikan bahwa kapal tersebut dimiliki oleh pihak ketiga, dan bukan bagian dari Wilmar Group. Sehingga, Wilmar Nabati Indonesia tidak ingin memberikan komentar apapun soal itu. Hanya saja, Master menyebut aksi yang dilakukan keenam aktivis di atas perairan internasional ini, tidak hanya membahayakan nyawa kru kapal, tapi juga membahayakan nyawa mereka sendiri.

    Saat dihubungi pada hari kejadian, Master menyebut kapal masih tertahan di laut. Pada Senin sore, Master mengatakan bahwa kapal telah melanjutkan perjalanannya kembali untuk mengantar minyak sawit ke konsumen mereka di Eropa.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peta Suara Jokowi - Ma'ruf dan Prabowo - Sandiaga di Pilpres 2019

    Komisi Pemilihan Umum mencatat pasangan Jokowi - Ma'ruf menang di 21 provinsi, sedangkan Prabowo - Sandiaga unggul di 13 provinsi saat Pilpres 2019.