Strategi Rudiantara Agar Sekolah Dapat Internet Cepat pada 2020

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • (ki-ka) Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara, Presiden Direktur XL Axiata Dian Siswarini, dan Menteri Industri Airlangga Hartarto menempelkan sidik jari saat peluncuran X-Camp dan laboratorium Internet of Things (IoT) di XL Axiata Tower, Jakarta, Selasa, 13 November 2018. XL Axiata membangun laboratorium X-Camp guna mengembangkan IoT sebagai salah satu solusi digital untuk mempermudah berbagai aktifitas individu dan industri. TEMPO/Tony Hartawan

    (ki-ka) Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara, Presiden Direktur XL Axiata Dian Siswarini, dan Menteri Industri Airlangga Hartarto menempelkan sidik jari saat peluncuran X-Camp dan laboratorium Internet of Things (IoT) di XL Axiata Tower, Jakarta, Selasa, 13 November 2018. XL Axiata membangun laboratorium X-Camp guna mengembangkan IoT sebagai salah satu solusi digital untuk mempermudah berbagai aktifitas individu dan industri. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara tidak ingin menunggu sampai tahun 2022 agar 226 ribu sekolah dan 5 ribu puskesmas di seluruh Indonesia bisa terhubung dengan jaringan internet gratis berkecepatan tinggi. Rudi ingin di tahun 2020, setahun setelah target proyek Palapa Ring rampung, Indonesia bisa menyewa sementara satelit lain dan mengoperasikan jaringan internet lewat 149 ribu antena pemancar di seluruh Indonesia.

    Baca: Kominfo: Palapa Ring Selesai 2018, Begini Progresnya

    149 ribu antena itu adalah bagian dari proyek satelit multifungsi yang bakal selesai dibangun tahun 2022. Ketika antena satu per satu mulai dibangun, maka kementerian akan mencari satelit lain yang serupa agar bisa disewa terlebih dahulu. “Kalau kalau satelit kami sudah ada, tinggal memindahkan, dengan begitu enggak harus nunggu 2022,” kata dia dalam diskusi media di Jakarta Selatan, Senin, 19 November 2018.

    Kementerian mengakalinya pada proses lelang proyek satelit multifungsi yang saat ini tengah berjalan. Peserta lelang yang tertarik menggarap proyek ini diwajibkan memiliki slot orbit satelit. Dengan begitu, Indonesia bisa menggunakan jatah slot orbit satelit tersebut, sembari satelit milik sendiri selesai dan mengorbit. Slot orbit ini rencananya bakal digunakan selama 15 tahun, sesuai periode kontrak proyek satelit multifungsi.

    Proyek satelit senilai US$ 600 juta atau sekitar Rp 8,7 triliun ini sebenarnya sudah dimulai sejak kuartal keempat 2017 ketika dilakukannya pre-market sounding. 10 bulan kemudian, Rudi meluncurkan proyek ini saat gelaran IMF-World Bank di Bali, 8 Oktober 2018. Proyek yang akan didanai lewat skema KPBU (Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha) ini tengah memasuki proses lelang. Ada sebanyak lima konsorsium asing sudah menyatakan minat untuk terlibat.

    Rudi tidak merinci kelima konsorsium tersebut, Hanya saja, pada saat pre-market sounding bersama Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), ada sejumlah perusahaan yang tertarik untuk terlibat. Beberapa di antaranya yaitu Bank of China, Citibank, China Export and Credit Insurance Corporation atau Sinosure, Aerosapce Industrial Development Taiwan, hingga Deloitte, PricewaterhouseCoopers atau PWC.

    Di kuartal pertama 2019, lelang akan selesai dan konsorsium pemenang proyek akan diumumkan. Setelah itu, pemenang bakal menyelesaikan financial closing pada pertengahan 2018. Di tahap ini pula, blended finance atau pembiayaan campuran diharapkan bisa masuk mendanainya. Lalu dengan masa pengerjaan tiga tahun setelah financial closing, maka proyek ini targetkan rampung pertengahan 2022.

    Proyek ini juga merupakan strategi untuk menjangkau wilayah terluar dan tertinggal yang tidak tersentuh oleh jaringan Palapa Ring. Sebanyak 149.000 antena akan dibangun di seluruh daerah di Indonesia. Perinciannya yaitu 54.400 di Pulau Sumatera, 19.300 di Kalimantan, 19.400 di Jawa, 13.500 di Bali dan Nusa Tenggara, 23.900 di Sulawesi, serta 18.500 di Papua dan Maluku.

    Simak: Rudiantara Targetkan Palapa Ring Rampung September 2018

    Selain itu, Rudiantara akan berupaya agar filantropi-filantropi dunia bisa masuk mendanai proyek ini lewat skema blended finance. Ia mencontohkan Bill and Melinda Gates, yayasan yang didirikan pendiri Microsoft Word, Bill Gates. Yayasan seperti ini memang menyalurkan dana mereka kepada proyek yang sejalan dengan mencapai SDGs atau Sustainable Development Goals atau tujuan pembangunan berkelanjutan. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.