Kata Sri Mulyani ke Mahasiswa STAN: Hindari Menara Gading

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani (tengah), didampingi Menko Perekonomian Darmin Nasution (kanan), dan Gubernur BI Perry Warjiyo saat menyampaikan keterangan pers di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat, 16 November 2018. Keterangan pers ini terkait Paket Kebijakan Ekonomi XVI. TEMPO/Subekti.

    Menteri Keuangan Sri Mulyani (tengah), didampingi Menko Perekonomian Darmin Nasution (kanan), dan Gubernur BI Perry Warjiyo saat menyampaikan keterangan pers di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat, 16 November 2018. Keterangan pers ini terkait Paket Kebijakan Ekonomi XVI. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Tangerang Selatan - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mendorong mahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara agar masuk ke masyarakat untuk memahami permasalahan yang ada. Ia tak ingin lulusan sekolah yang dikelola oleh kementeriannya itu menjadi menara gading yang abai dengan kondisi sekitar.

    Baca: Tahun Pemilu, Sri Mulyani Sebut Banyak Politikus Janjikan Belanja

    "Hindari mental menjadi menara gading," ujar Sri Mulyani kepada para mahasiswa STAN di kampusnya, Ahad, 18 November 2018.

    Sri Mulyani khawatir lulusan STAN cenderung menjadi menara gading lantaran kemudahan-kemudahan yang diterimanya selama berkuliah. Pasalnya, menurut dia, mahasiswa kampus tersebut sejak awal telah merasakan jalur eksklusif. "Anda masuk ke sini kuliah sudah dibayarin, saat keluar sudah mendapat pekerjaan, jalurnya eksklusif, saya khawatir anda kurang perhatian kepada masyarakat."

    Untuk itu, Sri Mulyani mendukung program perguruan tinggi untuk masuk dan melakukan pengabdian masyarakat di desa. Dengan demikian, selain bisa memahami persoalan yang ada, mahasiswa nantinya bisa memberi solusi bagi pembangunan di Indonesia. Ia berharap mentalitas itu juga bertahan ketika para lulusan STAN menjadi pengambil kebijakan di pemerintahan.

    Saat ini, kata Sri Mulyani, ada 75 ribu desa yang bisa dimasuki oleh perguruan tinggi guna melakukan penelitian. Dari jumlah tersebut, masih banyak desa dengan kategori tertinggal. "Itu lahan ibadah dan amal yang tidak habis-habis, jangan hanya datang ke desa yang populer."

    Di desa, perguruan tinggi dapat meneliti berbagai macam hal. Dari temuan di sana, mahasiswa bisa mendapatkan statistik yang apabila diolah dapat menjadi sebuah data atau bukti. Nantinya data itu bisa diolah menjadi usulan kebijakan-kebijakan anyar.

    Perguruan tinggi, ujar Sri Mulyani, mesti mampu mengisi slot-slot yang kosong dalam persoalan di masyarakat secara penuh, misalnya soal retorika, anggaran, sistem penerapan, hingga metode penyampaiannya. "Saya tantang BEM (badan eksekutif mahasiswa), ayo kita pikirkan," ujar Sri Mulyani. "Jangan ke desa cuma bikin laporan tapi tidak membuat analisis."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 17 Hari dalam Daftar Libur Nasional dan Sisa Cuti Bersama 2021

    SKB Tiga Menteri memangkas 7 hari cuti bersama 2021 menjadi 2 hari saja. Pemotongan itu dilakukan demi menahan lonjakan kasus Covid-19.