Airlangga Ingin Batam Jadi Tujuan Investasi Industri Manufaktur

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • (ki-ka) Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara, Presiden Direktur XL Axiata Dian Siswarini, dan Menteri Industri Airlangga Hartarto menempelkan sidik jari saat peluncuran X-Camp dan laboratorium Internet of Things (IoT) di XL Axiata Tower, Jakarta, Selasa, 13 November 2018. XL Axiata membangun laboratorium X-Camp guna mengembangkan IoT sebagai salah satu solusi digital untuk mempermudah berbagai aktifitas individu dan industri. TEMPO/Tony Hartawan

    (ki-ka) Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara, Presiden Direktur XL Axiata Dian Siswarini, dan Menteri Industri Airlangga Hartarto menempelkan sidik jari saat peluncuran X-Camp dan laboratorium Internet of Things (IoT) di XL Axiata Tower, Jakarta, Selasa, 13 November 2018. XL Axiata membangun laboratorium X-Camp guna mengembangkan IoT sebagai salah satu solusi digital untuk mempermudah berbagai aktifitas individu dan industri. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyebut Batam sebagai salah satu wilayah yang harus didorong menjadi tujuan investasi. Kata dia, kota di Kepulauan Riau itu memiliki potensi besar untuk mengembangkan sektor industri manufaktur.

    Simak: Faisal Basri: Sektor Pertanian Turun, Industri Manufaktur Memble

    "Kami mengajak kepada para pelaku industri dan investor di Batam untuk tetap optimistis menjalankan usahanya," ujar Airlangga dalam keterangan tertulis yang diterima Tempo, Ahad, 18 November 2018. Menurut dia, pemerintah telah memiliki solusi dan kebijakan strategis untuk menjadikan kawasan Batam semakin kompetitif.

    Berdasarkan data, kata Airlangga, industri pengolahan memberikan kontribusi paling besar hingga 36 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kepulauan Riau pada triwulan III tahun 2018. Ia juga mencatat, perekonomian Provinsi Kepri pada triwulan III-2018 yang diukur berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) mencapai Rp 65,19 triliun dan atas dasar harga konstan (ADHK) mencapai Rp 43,68 triliun.

    "Hal ini tidak terlepas dari peran Batam sebagai salah satu pusat kawasan industri," ujar Airlangga. Apalagi, ujar politikus Golkar itu, Batam berpeluang menjadi pusat pertumbuhan startup dengan adanya pengembangan Nongsa Digital Park. Upaya ini untuk merealisasikan Batam sebagai innovation hub serta mendukung implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0.

    “Saat leadership retreat di Bali pada Oktober lalu, Pemerintah Indonesia dan Singapura menandatangani Bilateral Investment Treaty. Selain potensi investasi Singapura ke Batam akan semakin besar, juga membidik Batam sebagai ‘digital bridge’ Singapura ke Indonesia,” kata Airlangga.

    Saat ini, industri manufaktur masih menjadi penopang utama perekonomian di Batam, dengan didukung pula sektor perdagangan dan jasa, serta konstruksi. Airlangga yakin, perlahan namun pasti, industri lain juga mulai berkembang pesat di Batam. Industri yang ia maksud antara lain industri digital, pariwisata, dan MRO atau industri perawatan pesawat. "Tentunya kami juga fokus pada pengembangan sektor lain, seperti industri galangan kapal (shipyard), offshore, termasuk migas,” tuturnya.

    Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan Roeslani mengaku telah melihat perkembangan positif dari Batam. Pertumbuhan ekonomi yang saat ini sudah di angka 4,25 persen, jauh lebih tinggi dibanding 2017 lalu yang berada di bawah dua persen. “Dengan tren yang bagus itu, kami berharap agar kebijakan yang ada harus disempurnakan."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lima Warisan Iptek yang Ditinggalkan BJ Habibie si Mr Crack

    BJ Habibie mewariskan beberapa hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Warisannya berupa lembaga, industri, dan teori kelas dunia.