Sri Mulyani Sebut Defisit APBN 1,6 Persen Terbaik sejak 2014

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sri Mulyani Indrawati. dok. TEMPO

    Sri Mulyani Indrawati. dok. TEMPO

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut defisit anggaran pendapatan dan belanja negara atau APBN sampai Oktober 2018 tercatat sebesar Rp 237 triliun. Angka ini menurun jauh ketimbang periode yang sama tahun lalu di angka Rp 308,8 triliun.

    Baca: Tahun Pemilu, Sri Mulyani Sebut Banyak Politikus Janjikan Belanja

    "Defisit kita dibanding tahun-tahun sebelumnya membaik signifikan, baik dari sisi nominal maupun persentase," ujar Sri Mulyani di kantornya, Kamis, 15 November 2018. Menurut dia, secara nominal angka defisit ini lebih baik ketimbang 2015-2016 lalu, sementara secara persentase angka ini adalah yang terbaik dibanding periode 2014-2017.

    Bila dipersentasekan, defisit APBN hingga akhir Oktober 2018 tercatat 1,6 persen terhadap PDB. Padahal, APBN 2018 memberikan ruang defisit hingga 2,19 persen atau sebesar Rp 325,9 triliun. "Itu jauh lebih kecil dari yang dianggarkan dan jauh daripada tahun lalu," kata Sri Mulyani.

    Pencapaian positif, menurut Sri Mulyani tidak hanya terlihat dari defisit APBN yang rendah. Ia menyebut keseimbangan primer hingga 31 Oktober 2018 bisa ditekan hingga mendekati nol persen. Realisasi hingga periode tersebut adalah -Rp 23,8 triliun atau 27,2 persen terhadap APBNP.

    Angka keseimbangan primer itu sangat jauh di bawah angka tahun lalu. Pada tahun lalu, realisasi hingga 31 Oktober 2017 adalah -Rp 125,2 triliun atau 70,3 dari dari APBNP. "Kita mengalami loncatan tajam yang dialami suatu negara, kami berharap momentum ini terjaga hingga 2019 nanti," ujar Sri Mulyani.

    Kuatnya postur APBN pada Oktober 2018 ini, menurut Sri Mulyani, tidak lepas dari baiknya penerimaan dan belanja negara pada periode ini. Realisasi penerimaan negara hingga periode tersebut adalah Rp 1.483,7 triliun. Angka itu tercatat 78,3 persen dari APBN. Bila dibandingkan dengan tahun lalu, penerimaan negara periode ini naik 20,7 persen.

    Apabila dijabarkan, penerimaan negara hingga oktober 2018 disumbangkan paling besar oleh sektor perpajakan. Penerimaan perpajakan tercatat Rp 1.160,7 triliun alias 71,7 persen dari APBN. Angka itu tumbuh 17 persen ketimbang tahun sebelumnya. Sementara pada penerimaan negara bukan pajak tercatat 315,4 persen atau 114,5 persen terhadap APBN. Angka ini tumbuh 34,5 persen dari tahun lalu.

    Torehan positif juga terjadi pada belanja negara. "Pertumbuhan belanja negara sangat pesat. Ini dua kali lipat dari tahun lalu," ujar Sri Mulyani. Hingga akhir Oktober 2018, belanja negara tercatat Rp 1.720,8 triliun atau 77,5 persen terhadap APBN. Pertumbuhan belanja negara pada periode ini tercatat 11,9 persen, sementara pada tahun lalu pertumbuhannya hanya 5,6 persen.

    Baca: Sri Mulyani: Gini Rasio Turun, Pertumbuhan Ekonomi Merata

    Dengan postur seperti itu, pembiayaan pun tercatat mengalami penurunan ketimbang tahun lalu sebesar 22,7 persen. Hingga 31 Oktober 2018, realisasi pembiayaan mencapai Rp 320 triliun. Sementara pada periode yang sama tahun lalu, angkanya Rp 413,7 triliun. " Artinya pembiayaan turun tajam," ujar Sri Mulyani.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada Generalized Anxiety Disorder, Gangguan Kecemasan Berlebihan

    Generalized Anxiety Disorder (GAD) adalah suatu gangguan yang menyerang psikis seseorang. Gangguannya berupa kecemasan dan khawatir yang berlebih.