Viral, Netizen Tanggapi Titiek Ingin Lanjutkan Program Soeharto

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Titiek Soeharto memberikan keterangan kepada sejumlah awak media saat menemani Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie dan calon Presiden Prabowo Subianto dalam berziarah ke makam Soeharto di Istana Giribangun, Matesih, Karanganyar, (8/6). Tempo/Ukky Primartantyo

    Titiek Soeharto memberikan keterangan kepada sejumlah awak media saat menemani Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie dan calon Presiden Prabowo Subianto dalam berziarah ke makam Soeharto di Istana Giribangun, Matesih, Karanganyar, (8/6). Tempo/Ukky Primartantyo

    TEMPO.CO, Jakarta - Nama Titiek Soeharto kembali menjadi buah pembicaraan di kalangan netizen belakangan ini. Hal tersebut di antaranya karena Ketua Dewan Pertimbangan Partai Berkarya ini berjanji bila pasangan Calon Presiden Prabowo Subianto dan wakilnya, Sandiaga Uno memenangi pemilihan presiden tahun depan, RI akan kembali seperti zaman Soeharto.

    Baca: Titiek Janji Bila Prabowo Menang RI Akan Seperti Era Soeharto

    "Sudah cukup… Sudah saatnya Indonesia kembali seperti waktu era kepemimpinan Bapak Soeharto yang sukses dengan swasembada pangan, mendapatkan penghargaan internasional dan dikenal dunia," ujar Titiek melalui akun resmi Twitter-nya @TitiekSoeharto, Selasa, 13 November 2018. 

    Titiek Soeharto yang punya nama panjang Siti Hediati Soeharto merupakan anak keempat dari presiden kedua RI, Soeharto. Ia juga menyoroti soal pangan saat berkampanye untuk pasangan Calon Presiden Prabowo Subianto dan wakilnya, Sandiaga Uno di Banten, Rabu, 14 November 2018.

    Pada pemilihan presiden 2014, pasangan Jokowi-Jusuf Kalla saat itu berjanji untuk melakukan swasembada pangan. Namun faktanya banyak impor pangan dan program swasembada tak tercapai. 

    "Banyak alasan kenapa presiden harus Pak Prabowo, karena tidak sedikit permasalahan di negeri ini. Katakan saja, misalnya, kondisi pangan dan pertanian," kata Titiek Soeharto.

    Saat itu, menurut dia, pemerintah Jokowi berjanji akan melakukan swasembada padi, jagung dan kedelai dalam waktu tiga tahun. Namun hingga kini ketiga komoditas itu masih impor. "Padahal kita ini negeri yang kaya, tapi kita malah impor. Dari beras, jagung, cabai, sampai cangkul diimpor," kata Titiek Soeharto.

    Pernyataan-pernyataan itu langsung ditanggapi kalangan netizen dan berkembang viral. Rizma Widiono, misalnya. "Maksudnya ingin KRISMON terulang lagi.? Akan terbukti ramalannya prabowo, 2030 Indonesia Bubar. Hellow mbak @TitiekSoeharto Kami tetap Optimis 2019 pilih #01JokowiLagi," ujarnya seperti dikutip dari akun Twitter-nya, @RizmaWidiono, 14 November 2018.

    Cuitan Rizma dikomentari oleh 211 netizen dan di-retweet sebanyak 288 kali. Cuitan tersebut juga diberi tanda like oleh sebanyak 543 orang. 

    Ada juga netizen yang mengomentari dengan gaya satir. "hebat ya mbak, bpk-nya sdh menjadi diktator terkorup sedunia abad 20; suatu rekor/prestasi yg sulit unt dipecahkan #congratulation," seperti dikutip dari akun Twitter @cak_nawi, pada Rabu, 14 November 2018. 

    Lain lagi Kartika yang mengaku menderita selama kepemimpinan Soeharto di masa lalu. "32 tahun kami menderita dibawah kepemimpinan buapakmu yg otoriter, sarat dgn KKN, skrng anda sbg anaknya merasa tidak berdosa & berani koar2, mau munculkan rezim Orba lagi? Kami MUAK," ujarnya seperti dikutip dari akun Twitter @Kartikaribet, Kamis, 15 November 2018.

    Baca: Tommy Soeharto, Tutut, Bambang Masuk Orang Terkaya di Indonesia

    Sementara Paul Petter berkomentar bahwa ia tak mau kembali kembali ke zaman ketika dipimpin Soeharto yang dikenal dengan zaman orde baru. "Gak mau kembali ke jaman orde baru.... Di desa saya yg punya tv di jaman orba Cuma pak kades...." ujarnya seperti dikutip dari akun Twitter-nya @Paulpetter4. 

     
     
     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pro Kontra Kemendikbud Menerapkan Zonasi Sekolah pada PPDB 2019

    Zonasi sekolah di PPDB yang diterapkan Kemendikbud memicu pro dan kontra. Banyak orang tua menganggap sistem ini tak adil dan merugikan calon siswa