Jusuf Kalla Bicara Soal Tantangan RI Hadapi Revolusi Industri 4.0

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Jusuf Kalla memberi pengarahan dalam rapat koordinasi nasional dan evaluasi program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa tahun anggaran 2018 di Hotel Sultan, Jakarta, 14 November 2018. Tempo/Friski Riana

    Wakil Presiden Jusuf Kalla memberi pengarahan dalam rapat koordinasi nasional dan evaluasi program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa tahun anggaran 2018 di Hotel Sultan, Jakarta, 14 November 2018. Tempo/Friski Riana

    Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla berbicara dalam acara Tempo Economic Briefing 2018 di Jakarta, Kamis, 15 November 2018. Acara itu menyoroti tema Meningkatkan Daya Saing Indonesia dengan Revolusi Industri 4.0.

    Baca juga: Jusuf Kalla Soroti Beda AS dan Cina Hadapi Revolusi Industri 4.0

    JK mengatakan, kunci untuk meningkatkan daya saing Indonesia dalam menghadapi revolusi industri 4.0 adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia. "Tanpa SDM yang baik untuk mengimbangi teknologi maju, kita akan pincang juga," katanya.

    Acara Tempo Economic Briefing 2018 juga dihadiri Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri, pengamat ekonomi Faisal Basri, dan pelaku industri di bidang telekomunikasi, Arya Damar.

    Menurut Kalla, revolusi industri membuat dunia ekonomi berubah dengan cepat. Perubahan tersebut ditakuti oleh semua negara, termasuk negara besar. Sebab, revolusi industri mengubah inti dari ekonomi saat ini menjadi sebuah persaingan. Setiap negara berlomba menjadi yang terbaik dengan menawarkan layanan cepat dan murah.

    Revolusi industri 4.0 yang memicu persaingan itu terlihat dari gelagat negara-negara besar. Negara kapitalis seperti Amerika kini mulai menutup diri. Sementara negara komunis seperti Cina justru mempraktekkan ekonomi terbuka.

    Jusuf Kalla mengatakan Brexit juga merupakan manifestasi dari ketakutan terhadap persaingan dunia di tengah Revolusi Industri. "Bisakah Inggris bersaing dengan negara-negara Eropa lainnya sehingga dia ingin keluar," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.