Tahun Pemilu, Sri Mulyani Sebut Banyak Politikus Janjikan Belanja

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan laporan semester 1 APBN 2018 di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, 9 Juli 2018. TEMPO/Friski Riana

    Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan laporan semester 1 APBN 2018 di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, 9 Juli 2018. TEMPO/Friski Riana

    TEMPO.CO, Depok - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebutkan bahwa belanja negara menjadi instrumen paling penting dalam mencapai tujuan pembangunan. 

    Baca: Sri Mulyani: Panama Papers Bantu Deteksi Pengemplang Pajak

    “Biasanya kalau di tahun politik ini menjadi bagian paling seru,” ujar Sri Mulyani saat menyampaikan kuliah umum di Universitas Indonesia, Rabu, 14 November 2018. 

    Sri Mulyani menjelaskan, pengelolaan belanja negara yang baik dapat digunakan untuk mengurangi kemiskinan, menciptakan lapangan kerja, menciptakan pemerataan maupun membantu segmen tertentu seperti petani dan nelayan. 

    Dan di tahun pemilu, kata Sri Mulyani, tak sedikit para politikus yang menjanjikan alokasi anggaran bagi konstituennya. Dalam janjinya kampanye hanya disebutkan dari sisi belanja, tidak pernah mempertimbangkan sisi penerimaan negara. “Itu di pemilu, ngomong di mana-mana begitu.”

    Sri Mulyani mencontohkan, pemilu di Italia yang baru saja dimenangkan oleh partai populis Five Star Movement dan Partai Liga. Mereka menjanjikan banyak hal yang melanggar kesepakatan dengan Uni Eropa.

    “Begitu Italia mengajukan APBN, karena sudah janji belanjanya banyak tapi penerimaan tidak menutup, defisitnya gede, trus disemprit sama Europe Union.”

    Pada akhirnya, kata Sri Mulyani, terjadi perdebatan karena partai penguasa Italia merasa bahwa mereka bangsa berdaulat. Uni Eropa pun menagih komitmen dari Italia untuk menaati kesepakatan ekonomi regional. “Kami sudah janji sekian banyak. Ya itu janji kamu, tapi kan kamu juga janji sama Eropa sekian,” ujarnya menggambarkan perseteruan Italia dan Uni Eropa. 

    Tak hanya itu, Sri Mulyani mencontohkan kebijakan populis di Venezuela yang menyebabkan terjadinya inflasi sebesar 1.150 persen. Venezuela yang yang kaya dengan sumber daya alam minyak sempat menjadi negara dermawan. 

    “Dulu itu minyaknya dibagi-bagikan ke Haiti dan negara-negara kecil. Jadi Hugo Chaves itu populer banget, sampai di sini juga populer. Padahal tidak tahu apa-apa, yang penting populer aja.”

    Baca: Sri Mulyani: Kemenkeu Anggarkan Dana Abadi Penelitian Rp 1 T

    Namun begitu harga minyak jatuh, kata Sri Mulyani, semua yang dijanjikan Hugo Chavez tidak bisa terpenuhi. "Uang yang dulunya didapatkan dari dolar dan minyak sudah tidak ada lagi. Akhirnya mereka mengambil kebijakan mencetak uang," ucapnya. "Setiap orang dikasih uang terus tapi barangnya nggak ada. Jadi inflasinya naiknya tinggi sekali."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspadai Komplikasi Darah Akibat Covid-19

    Komplikasi darah juga dapat muncul pasca terinfeksi Covid-19. Lakukan pemeriksaan preventif, bahan ketiksa sudah sembuh.