World Bank Sebutkan Cara Menjadi Negara Berpendapatan Tinggi

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde (kiri) melihat tas hasil karya perajin Indonesia di sela pertemuan tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Bali Nusa Dua Convention Center, Nusa Dua, Bali, Ahad, 14 Okrober 2018. Pertemuan tahunan tersebut telah berlangsung dengan lancar. ANTARA/ICom/AM IMF-WBG//Nyoman Budhiana.

    Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde (kiri) melihat tas hasil karya perajin Indonesia di sela pertemuan tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Bali Nusa Dua Convention Center, Nusa Dua, Bali, Ahad, 14 Okrober 2018. Pertemuan tahunan tersebut telah berlangsung dengan lancar. ANTARA/ICom/AM IMF-WBG//Nyoman Budhiana.

    TEMPO.CO, Jakarta - Lead Economist World Bank Indonesia, Vivi Alatas mengatakan pemerintah perlu mendorong kelas menengah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Cara ini dinilai dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lebih maksimal dan keluar dari perangkap pendapatan menengah atau middle income trap.

    Simak: Agenda IMF-World Bank Digelar di Bali, RI Bisa Raih USD 115 Juta

    "Untuk itu mendorong pertumbuhan kelas menengah penting agar lepas dari jeratan middle income trap, dorong status Indonesia jadi negara berpendapatan tinggi," kata Vivi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Senin, 12 November 2018.

    Menurut Vivi saat ini Indonesia masih berada dalam perangkap middle income trap. Vivi mengatakan pendapatan per kapita Indonesia di kisaran US$ 3.400, sedangkan untuk keluar dari perangkap itu, pendapatan per kapita harus bisa di kisaran US$ 12.000.

    Salah satu cara yang paling menonjol untuk keluar dari perangkap tersebut, kata Vivi dengan mendorong pertumbuhan kelas menengah. Karena, menurut dia meningkatkan kapastias kelas menengah,  bisa mencapai potensi pembangunan yang maksimal dan menjadi negara berpendapatan tinggi.

    Menurut Vivi potensi itu terlihat dari kontribusi besar kelas menengah terhadap konsumsi rumah tangga secara keseluruhan. Vivi melihat per tahun, rata-rata kontribusi kelas menengah terhadap keseluruhan konsumsi sebesar 19 persen, sedangkan di luar kelas itu adalah sekitar 2 persen.

    "Kelas menengah adalah konsumen utama, karena pertumbuhan datang dari konsumsi, dia yang hanya 22 persen, tapi total impactnya pengeluaran rumah tangga kelas menengah sejak 2002 tumbuh 19 persen tiap tahun. Artinya kelas menengah dapat meningkatkan multiplier efek dari peningkatan konsumsi," ujar Vivi.

    Vivi mengatakan kelas menengah berpotensi besar menjadi mesin pembangunan, jumlahnya yang banyak dan memiliki kapasitas untuk berinvestasi di pendidikan, baik untuk diri sendiri maupun untuk keluarga.

    "Jadi kelas menengah akan punya dampak lintas generasi," kata Vivi

    Lebih lanjut Vivi mengatakan yang paling penting dari potensi kelas menengah, yaitu dominasi dalam menciptakan lapangan pekerjaan. Karena, kata Vivi, 42 persen karyawan usaha yang digaji merupakan dari kelas menengah.

    "Kelas menengah punya dampak penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kelas pada kelas lain," kata Vivi.

    Vivi menilai pemerintah harus menstimulus laju pertumbuhan ekonomi dengan memanfaatkan kelas menengah. Salah satunya, kata Vivi dengan memberikan kesempatan yang sama kepada masyarakat untuk tumbuh menjadi kelas menengah atau di atasnya.

    "Kemudian memberikan kesempatan kerja yang sama serta, memberikan secara maksimal perlindungan sosial," kata Vivi.

    Simak berita tentang World Bank hanya di Tempo.co

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?