Bulog Sulawesi Tenggara Akui Tak Penuhi Target Pengadaan Beras

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Utama Perum Badan Urusan Logistik atau Bulog Budi Waseso dan Tjahya Widayanti Dirjen Perdagangan Dalam Negeri saat meluncurkan giat ketersediaan pasokan dan stabilitas harga pangan di Gudang Bulog Divre DKI Jakarta dan Banten, Kelapa Gading, Jakarta, Rabu, 6 Juni 2018. Tempo/Hendartyo Hangg

    Direktur Utama Perum Badan Urusan Logistik atau Bulog Budi Waseso dan Tjahya Widayanti Dirjen Perdagangan Dalam Negeri saat meluncurkan giat ketersediaan pasokan dan stabilitas harga pangan di Gudang Bulog Divre DKI Jakarta dan Banten, Kelapa Gading, Jakarta, Rabu, 6 Juni 2018. Tempo/Hendartyo Hangg

    TEMPO.CO, Palu - Perum Bulog Sulawesi Tengah menyatakan dengan sisa waktu kurang daru dua bulan lagi. Karena itu Bulog mengakui tidak dapat memenuhi 100 persen target pengadaan beras untuk stok nasional 2018. 

    Simak:  Impor Jagung, Kementerian Perdagangan Tunggu Pengajuan Bulog

    "Kami memang kesulitan membeli beras petani, sebab harga pembelian pedagang jauh lebih tinggi dari harga pembelian pemerintah (HPP)," kata Kepala Perum Bulog Sulteng, Khozin di Palu, Sabtu 10 November 2018.

    Ia mengatakan dari target pengadaan yang ditetapkan Bulog sebanyak 50.000 ton, Sulteng baru bisa menyerap sebanyak 15.000 ton. Jumlah ini setara 30 persen dari total target.

    Menurut dia, tidak mungkin lagi target Bulog Sulteng tercapai. Mengingat tingga dua bulan ini waktu Bulog untuk mengenjot pembelian.

    Selain karena harga beras di tingkat petani jauh di atas HPP, dampak bencana sangat berpengaruh pada Bulog dalam melakukan pembelian beras petani di sejumlah kantong produksi. Seperti di Kabupaten Parigi Moutong, Donggala dan Sigi.

    Praktis selama pasca-gempa hingga kini, Bulog belum berhasil membeli beras petani di daerah-daerah tersebut.

    Padahal, Kabupaten Donggala, Parig Moutong dan Sigi merupakan daerah penghasil beras. Selama daerah tersebut berkontribusi besar dalam kegiatan pengadaan beras stok nasional di Sulteng.

    Harga beras pembelian pedagang pengumpul di tingkat petani mencapai Rp8.500/kg. Sementara Bulog membeli beras petani sesuai HPP sebesar Rp8.030/kg.

    Selisih harga pembelian cukup mencolok sehingga Bulog kalah bersaing dengan pedagang yang datang dari luar seperti Gorontalo dan Manado.

    Meski pengadaan beras stok nasional di Sulteng terbilang kecil, tetapi Bulog Sulteng masih memiliki persediaan beras di gudang mencapai 12.000 ton. Jumlah ini dinilai cukup untuk kebutuhan penyaluran hingga empat bulan ke depan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.