Rabu, 21 November 2018

Trade Expo 2018, Komposisi Produk Ekspor Tak Banyak Berubah

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi (tengah) didampingi Menko Perekonomian Darmin Nasution (kelima kiri) dan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (kelima kanan) berfoto bersama penerima penghargaan Primaniyarta dan Primaduta saat pembukaan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-32 Tahun 2017, di Indonesia Convention Exhibition, Tangerang, Banten, 11 Oktober 2017. ANTARA

    Presiden Jokowi (tengah) didampingi Menko Perekonomian Darmin Nasution (kelima kiri) dan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (kelima kanan) berfoto bersama penerima penghargaan Primaniyarta dan Primaduta saat pembukaan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-32 Tahun 2017, di Indonesia Convention Exhibition, Tangerang, Banten, 11 Oktober 2017. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Perdagangan mengumumkan total transaksi dalam gelaran Trade Expo 2018 berhasil mencapai US$ 8,49 miliar atau sekitar Rp 127,33 triliun. Angka ini meroket 6,8 kali lipat dibandingkan Trade Expo 2017 yang hanya US$ 1,406 miliar atau sekitar Rp 18,6 triliun.

    "Lebih baik sebelumnya, lonjakannya sangat tinggi," kata Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dalam jumpa pers di kantornya, Jumat, 9 November 2018.

    Hanya saja, jenis-jenis produk Indonesia yang diminati negara lain dalam acara tahun ini tak banyak berubah dari tahun lalu. Dari dua tahun penyelenggaraan terakhir, barang-barang unggulannya masih berupa produk perikanan, kimia, makanan olahan, perikanan, minyak sawit, dan produk kertas.

    Pada Trade Expo 2017, produk yang paling diminati pembeli adalah yaitu seperti kopi dengan transaksi sebesar US$ 91,62 juta. Selanjutnya minyak esensial sebesar US$ 80,43 juta, makanan olahan US$ 78,61 juta, dan minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) US$ 69,58 juta. Lalu ada juga produk-produk kimia, produk perikanan, dan produk kertas.

    Pada tahun ini, proporsinya masih sama namun tetap tumbuh positif dibandingkan tahun lalu. Produk makanan olahan mencatatkan transaksi US$ 434,41 juta, produk kimia US$ 143,36 juta, CPO US$ 132,5 juta, perikanan US$ 64,45 juta, dan produk kertas US$ 54,71 juta. Enggar menilai memang itulah produk unggulan dari Indonesia. "Memang mau produk apa lagi?" kata dia.

    Sedangkan jika dilihat dari asal negara pada Trade Expo 2017 adalah Laos US$ 588 juta, India US$ 104,29 juta, Mesir US$ 83,01 juta, Arab Saudi US$ 73,60 juta, dan Italia sebesar US$ 64,87 juta. Sedangkan tahun ini, sejumlah negara masih bertahan, dari yang terbesar yaitu Arab Saudi US$ 417,19 juta, Jepang US$ 142,75 juta, Inggris US$ 118,45 juta, India US$ 98,39 juta, dan Mesir US$ 80,46 juta.

    Enggar mengatakan, selain daftar di atas, transaksi dengan sejumlah negara tujuan ekspor non-tradisional di Afrika dan Asia Selatan sebenarnya telah menunjukkan peningkatan yang positif. Hanya saja, Kementerian Perdagangan belum merinci secara kumulatif total transaksi di kedua negara ini. "Afrika misalnya, kalau dilihat per negara sebenarnya kecil, tapi kalau secara keseluruhan cukup besar," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komposisi Utang Merpati Nusantara Airlines

    Asa bisnis Merpati Nusantara Airlines mengembang menyusul putusan Pengadilan Niaga Surabaya yang mengabulkan penundaan kewajiban pembayaran utang.