Nasib Jagung Era Jokowi: Klaim Surplus Dulu, Impor Kemudian?

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo bersama Menteri BUMN Rini Soemarno (keempat kiri) dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar (kedua kiri) berdialog dengan petani saat panen raya jagung di Perhutanan Sosial, Ngimbang, Tuban, Jawa Timur, 9 Maret 2018. Jagung yang dipanen raya tersebut merupakan hasil budi daya pertanian oleh petani penggarap hutan penerima KUR dari BNI. ANTARA FOTO/Zabur Karuru

    Presiden Joko Widodo bersama Menteri BUMN Rini Soemarno (keempat kiri) dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar (kedua kiri) berdialog dengan petani saat panen raya jagung di Perhutanan Sosial, Ngimbang, Tuban, Jawa Timur, 9 Maret 2018. Jagung yang dipanen raya tersebut merupakan hasil budi daya pertanian oleh petani penggarap hutan penerima KUR dari BNI. ANTARA FOTO/Zabur Karuru

    Kepala Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian, Agung Hendriadi, membenarkan bahwa harga jagung mengalami kenaikan lantaran persoalan distribusi dan musim panen. "Pertama, lokasi produksi peternakan yang tidak sama dengan lokasi produksi jagung," kata Agung saat ditemui di Balai Besar Pasca Panen, Kementerian Pertanian, di Bogor, Jawa Barat, Senin, 15 Oktober 2018. Kondisi ini, kata dia, membuat biaya distribusi jagung ikut naik.

    Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution yang membawahi Kementan dan Kemendag, sempat mempertanyakan usulan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman perihal impor jagung. Padahal, Amran sempat menyebutkan Indonesia mengalami surplus produksi jagung.

    "Dia mengusulkan perlu impor jagung, saya juga tanya, 'katanya surplus?' Akhirnya dijawab karena harganya naik," ujar Darmin di kantornya, Rabu malam, 7 November 2018. Sehari sebelumnya, Amran mengatakan impor jagung hanya untuk mengontrol harga agar stabil.

    Sebab, di pasaran, harga jagung telah menyentuh Rp 5 ribu per kilogram dan bisa menyulitkan para peternak. Menurut dia, apabila harga jagung menurun, impor tak akan dilanjutkan.

    “Ini baru rencana impor jagung 50 ribu oleh Bulog. Itu pun pemerintah yang impor bukan dilepas. Kalau mungkin harga turun, enggak mungkin dikeluarin sebagai alat kontrol aja,” kata Amran di Kementerian Pertanian, Selasa, 6 November 2018.

    Menteri Enggartiasto hanya tertawa ketika ditanya apakah ada arahan dalam rakortas agar tidak ada lagi klaim surplus di kemudian hari. "Gak ada arahan, siapa yang ngarah-ngarahain," kata dia.

    FAJAR PEBRIANTO | CAESAR AKBAR | BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    7 Tips Agar Lebih Mudah Bangun Sahur Selama Ramadan

    Salah satu tantangan selama puasa Ramadan adalah bangun dini hari untuk makan sahur.