Nasib Jagung Era Jokowi: Klaim Surplus Dulu, Impor Kemudian?

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo bersama Menteri BUMN Rini Soemarno (keempat kiri) dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar (kedua kiri) berdialog dengan petani saat panen raya jagung di Perhutanan Sosial, Ngimbang, Tuban, Jawa Timur, 9 Maret 2018. Jagung yang dipanen raya tersebut merupakan hasil budi daya pertanian oleh petani penggarap hutan penerima KUR dari BNI. ANTARA FOTO/Zabur Karuru

    Presiden Joko Widodo bersama Menteri BUMN Rini Soemarno (keempat kiri) dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar (kedua kiri) berdialog dengan petani saat panen raya jagung di Perhutanan Sosial, Ngimbang, Tuban, Jawa Timur, 9 Maret 2018. Jagung yang dipanen raya tersebut merupakan hasil budi daya pertanian oleh petani penggarap hutan penerima KUR dari BNI. ANTARA FOTO/Zabur Karuru

    "Kondisi para peternak sudah sangat mengkhawatirkan dan sangat berbahaya dampaknya secara jangka panjang," kata Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) ini melalui akun twitternya, Jumat, 12 Oktober 2018.

    Menurut Fadli, harga jagung saat ini sudah menyentuh harga Rp5.000-Rp5.300 per kilogram, padahal harga acuan ditingkat petani Rp3.150 per kg dan ditingkat konsumen Rp. 4.000 per kg. "Dengan harga tersebut, pasokan jagung juga minim. Padahal komponen utama pakan ayam petelur adalah jagung," ujarnya.

    Harga jagung seperti yang disampaikan Fadli sesuai dengan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 58 Tahun 2018 Tentang Penetapan Harga Acuan Pembelian di Petani dan Harga Acuan Penjualan di Konsumen.

    Dalam peraturan tersebut, Kementerian Perdagangan menetapkan harga acuan pembelian jagung di tingkat petani berdasarkan kandungan airnya, mulai dari kandungan air 15 persen seharga Rp 3.150 hingga kandungan air 35 persen seharga Rp 2.500

    Kritikan Fadli ini dibenarkan oleh sejumlah peternak. Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Singgih Januratmoko mengatakan bahwa harga jagung untuk pakan sudah mengalami kenaikan rata-rata sebesar Rp 500 sejak Januari 2018. Untuk pakan ayam layer atau petelur, harga naik dari Rp 5000 menjadi Rp 5500 per kg.

    "Sementara harga jagung untuk pakan ayam broiler atau pedaging naik dari Rp 6000 menjadi Rp 7000 per kg," kata dia saat dihubungi, 1 Oktober 2018.

    Jauh sebelum itu, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan Sumarjo Gatot Irianto mengatakan bahwa secara umum produksi jagung nasional saat ini sangat baik. "Kita masih surplus sebesar 12,98 juta ton, dan bahkan Indonesia telah ekspor jagung ke Filipina dan Malaysia sebanyak 372.990 ton,” kata dia dikutip dari Bisnis Indonesia, Kamis, 27 September 2018.

    Klaim inilah yang dikritik keras oleh Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) bidang Peternakan dan Perikanan, Anton J. Supit. Ia mengatakan persoalan harga jagung ini tidak bisa diselesaikan dengan argumen surplus semata. "Bisa saja bilang surplus, tapi jagung itu dimana, tolong tunjukkan ada dimana," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketentuan THR Ramadan 2021: Tidak Boleh Dicicil

    Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah telah mengeluarkan edaran THR Ramadan 2021 yang mewajibkan perusahaan membayarnya sesuai dengan undang-undang.