Rabu, 21 November 2018

Nasib Jagung Era Jokowi: Klaim Surplus Dulu, Impor Kemudian?

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo bersama Menteri BUMN Rini Soemarno (keempat kiri) dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar (kedua kiri) berdialog dengan petani saat panen raya jagung di Perhutanan Sosial, Ngimbang, Tuban, Jawa Timur, 9 Maret 2018. Jagung yang dipanen raya tersebut merupakan hasil budi daya pertanian oleh petani penggarap hutan penerima KUR dari BNI. ANTARA FOTO/Zabur Karuru

    Presiden Joko Widodo bersama Menteri BUMN Rini Soemarno (keempat kiri) dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar (kedua kiri) berdialog dengan petani saat panen raya jagung di Perhutanan Sosial, Ngimbang, Tuban, Jawa Timur, 9 Maret 2018. Jagung yang dipanen raya tersebut merupakan hasil budi daya pertanian oleh petani penggarap hutan penerima KUR dari BNI. ANTARA FOTO/Zabur Karuru

    TEMPO.CO, Jakarta - Proses impor 100.000 ton jagung untuk kebutuhan pakan ternak tengah berjalan. Rapat koordinasi terbatas di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada 2 November 2018 menyetujui usulan impor dari Kementerian Pertanian (Kementan). Kementan pulalah beberapa bulan sebelumnya menyatakan produksi jagung nasional melebihi kebutuhan alias surplus.

    Baca: Mentan Sebut Stok Jagung Dalam Negeri Dikuasai Perusahaan Besar

    "Usulan Mentan impor 100 ribu ton, rakor pun menugaskan Bulog (mengimpor)," kata Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita selepas acara jumpa pers hasil Trade Expo 2018 di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, Jumat, 9 November 2018.

    Dalam rapat itu, sejumlah pihak hadir yaitu Enggartiasto, Amran, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno, dan Deputi Kementerian BUMN Bidang Usaha Industri Agro dan Farmasi Wahyu Kuncoro, hingga Ketua Satgas Pangan Inspektur Jenderal Setyo Wasisto.

    Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Oke Nurwan menyebut Kementerian Perdagangan menampung usulan 50 sampai 100 ribu ton impor jagung dari Kementan sesuai hasil rakortas. Kemendag kemudian bersurat ke Kementerian BUMN untuk penugasan impor kepada Bulog.

    Selanjutnya, Bulog mengajukan Persetujuan Impor (PI) melalui Online Single Submission (OSS). Setelah laporan diterima Kemendag, barulah Bulog melakukan impor. Sampai saat ini, Oke belum mengetahui apakah tahapannya sudah sampai ke tingkat OSS atau belum.

    Perihal dari negara mana jagung akan didatangkan, Oke menyebut itu adalah keputusan Bulog sepenuhnya. Hasil rakortas hanya memerintahkan agar jagung impor itu dijual dengan harga Rp 4000 per kilogram karena saat ini para peternak mandiri kekurangan dan butuh jagung dengan harga terjangkau.

    Ribut-ribut soal jagung untuk pakan ternak ini sebenarnya telah berlangsung sejak bulan lalu.Wakil Ketua DPR Fadli Zon pun melontarkan kritik terkait komoditas jagung yang mengalami lonjakan harga dan sulit ditemukan di pasaran. Menurut Fadli, kondisi ini telah terjadi hampit tiga bulan lamanya sehingga peternak ayam mengalami krisis pakan jagung.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komposisi Utang Merpati Nusantara Airlines

    Asa bisnis Merpati Nusantara Airlines mengembang menyusul putusan Pengadilan Niaga Surabaya yang mengabulkan penundaan kewajiban pembayaran utang.