Rabu, 21 November 2018

Gubernur BI Perry Warjiyo Ungkap 3 Penyebab Rupiah Menguat Cepat

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo ditemui usai mengikuti salat Jumat di Kompleks Bank Indonesia, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat, 19 Oktober 2018. TEMPO/Dias Prasongko

    Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo ditemui usai mengikuti salat Jumat di Kompleks Bank Indonesia, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat, 19 Oktober 2018. TEMPO/Dias Prasongko

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan tiga penyebab nilai tukar rupiah menguat dalam waktu relatif cepat, atau dalam kisaran dua pekan terakhir, dari level Rp15.200 per dolar AS ke saat ini di kisaran Rp14.600 per dolar AS.

    Baca juga: Sempat Menguat, Rupiah Pagi Ini Dibuka Tertekan Rp 14.645

    Menurut Perry, Jumat, 9 November 2018, kepercayaan investor global meningkat karena indikator ekonomi domestik yang membaik seperti laju inflasi hingga Oktober 2018, dan realisasi pertumbuhan ekonomi domestik kuartal III 2018.

    Badan Pusat Statistik mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III sebesar 5,17 persen secara tahunan (year on year/YoY), yang utamanya didorong oleh konsumsi rumah tangga.

    Sementara, inflasi di Oktober 2018 sebesar 0,28 perseN secara bulanan (month to month/MtM) atau 3,16 persen (YoY) yang berarti berada di bawah sasaran inflasi.

    "Pasar yakin terhadap kebijakan-kebijakan perekonomian yang diterbitkan saat ini," ujarnya.

    Menurut Perry, penyebab kedua penguatan rupiah dalam beberapa waktu terakhir adalah pemberlakukan pasar valas berjangka untuk domestik atau Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

    Operasional DNDF mulai efektif pada 1 November lalu. Perry mengklaim pasokan dan permintaan di pasar DNDF sudah berjalan baik dengan total transaksi selama sembilan hari berjalan mencapai 115 juta dolar AS.

    "Pemantauan kami soal DNDF berkembang dengan cukup baik. Pasokan dan permintaan berkembang. Sehingga menambah pendalaman pasar," ujar dia.

    Sebagai gambaran, sesuai tujuannya, pemberlakuan Domestik NDF dapat membuat pasar keuangan domestik berkembang sehingga pasar NDF di luar negeri kurang diminati. Sebelum terdapat Domestrik NDF, pasar NDF di luar negeri yang begitu volatil menjadi salah satu penyebab melemahnya nilai tukar rupiah di pasar domestik.

    Penyebab ketiga adalah meredanya perang dagang antara AS dan Cina menyusul rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Cina Xi Jinping di perhelatan G-20 pada akhir November 2018 ini.

    Pertemuan itu diklaim untuk membahas solusi perang dagang antara dua negara yang telah terjadi sejak awal tahun. Semua pelaku pasar keuangan global kini menanti perkembangan dari rencana pertemuan pemangku kebijakan paling berpengaruh di dunia itu.

    Rupiah mulai menunjukkan tren penguatan pada akhir Oktober 2018 dan hingga Jumat ini pukul 14.00 WIB, rupiah di pasar spot diperdagangkan di Rp14.681 per dolar AS. Meski demikian, pada perdagangan Jumat ini di spot, rupiah menunjukkan tren pelemahan, menjelang pengumuman defisit neraca transaksi berjalan domestik pada Jumat sore.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komposisi Utang Merpati Nusantara Airlines

    Asa bisnis Merpati Nusantara Airlines mengembang menyusul putusan Pengadilan Niaga Surabaya yang mengabulkan penundaan kewajiban pembayaran utang.