Rabu, 21 November 2018

Mandiri Syariah Bakal Tambah Pembiayaan untuk RS Mitra BPJS Kesehatan

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemudik menaiki mobil khusus pada acara mudik Mandiri Syariah di Thamrin, Jakarta Pusat, 9 Juni 2018. Pada mudik kali ini Mandiri Syariah menyediakan 1200 pemudik termasuk 100 penyandang disabilitas kekampung halamannya 23 bus reguler dan 3 bus khusus. Tempo/Fakhri Hermansyah

    Pemudik menaiki mobil khusus pada acara mudik Mandiri Syariah di Thamrin, Jakarta Pusat, 9 Juni 2018. Pada mudik kali ini Mandiri Syariah menyediakan 1200 pemudik termasuk 100 penyandang disabilitas kekampung halamannya 23 bus reguler dan 3 bus khusus. Tempo/Fakhri Hermansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Bank Syariah Mandiri atau Mandiri Syariah memastikan bakal menambah pembiayaan bagi puluhan rumah sakit yang menjadi mitra Badan Penyelenggara Jaminan Sosial atau BPJS Kesehatan di seluruh Indonesia. Pada 31 Agustus 2018, Mandiri Syariah telah mengucurkan pembiayaan awal sebesar Rp 1 triliun yang merupakan bagian dari program Supply Chain Financing (SCF) atau Islamic-Banking Supplier Financing (iB-SF).

    BACA: Cukai Rokok Batal Naik, Apa Hubungannya dengan BPJS Kesehatan?

    "Seiring dengan perbaikan kualitas kredit dan karena target bisnis kami rumah sakit, jadi pembiayaan ke rumah sakit otomatis akan membesar juga," kata Direktur Keuangan dan Strategi Mandiri Syariah, Ade Cahyo Nugroho selepas konferensi pers kinerja keuangan triwulan III di Wisma Mandiri I, Jakarta Pusat, Kamis, 8 November 2018.

    Ade belum bisa menyampaikan berapa banyak tambahan pembiayaan yang akan digelontorkan Mandiri. Sebab, perusahaan harus benar-benar memastikan bahwa kinerja keuangan dari rumah sakit yang akan dibiayai ini berjalan dengan baik. Itu sebabnya, rumah sakit yang akan mendapat pembiayaan ataupun telah mendapat persenan dari Rp 1 triliun ini, hanyalah rumah sakit yang sebelumnya sudah menjadi mitra Mandiri Syariah.

    BACA: Tarif Cukai Rokok Tak Naik, YLKI: BPJS Kesehatan Bisa 'Bleeding'

    Sepanjang tahun 2017, BPJS Kesehatan mencatatkan defisit keuangan hingga Rp 9,75 triliun lantaran jumlah klain tembus melampaui pendapatan dari iuran peserta. Jumlah pendapatan iuran dari program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) BPJS sebenarnya mencapai sebesar Rp 74,25 triliun. Tapi jumlah klaim yang harus ditanggung lebih lagi, mencapai Rp 84 triliun.

    Dampaknya, klaim yang harus dibayarkan BPJS Kesehatan kepada rumah sakit mitra sering terlambat dan menimbulkan protes dari rumah sakit itu sendiri. Beruntung, sejak awal September 2018, solusi mulai terlihat, bukan lewat dana bailout pemerintah, tapi lewat pembiayaan perbankan. "Sudah ada sejumlah bank yang menjadi rujukan atau mitra skema SCF,” kata Juru bicara BPJS Kesehatan, M. Iqbal Anas Ma’ruf.

    Iqbal menjelaskan, bank yang siap menjadi mitra adalah Bank Mandiri, BNI, Bank DKI, Bank KEB Hana, Bank Permata, Bank Bukopin, Bank Woori Saudara, Bank Jabar Banten (BJB), Bank Muamalat, Bank Syariah Mandiri, dan Bank CIMB Niaga. Selain bank, ada dua lembaga pembiayaan (multifinance) yang juga memakai skema ini, yakni TIFA Finance dan MNC Leasing.

    Sebelum menambahkan rupiah lagi ke rumah sakit, Mandiri Syariah akan lebih dulu mengevaluasi kucuran Rp 1 triliun ini. Uang pinjaman ini telah dinikmati puluhan rumah sakit mitra Mandiri Syariah di seluruh Indonesia. Ade belum bisa menyampaikan hasil evaluasi terhadap uang Rp 1 triliun ini karena baru berlangsung dua bulan. "Kami masih review terus," ujarnya.

    Kepastian soal tambahan pembiayaan ini juga muncul karena Mandiri Syariah telah berkomitmem untuk merubah sasaran pembiayaan mereka. Pada triwulan III 2018, Mandiri Syariah baru saja mengumumkan pertumbuhan laba bersih sebesar Rp 435 miliar, meningkat 67 persen year-on-year (yoy).

    Menurut Ade, perolehan laba bersih ini tak lepas dari menurunnya rasio kredit bermasalah. Selanjutnya, penurunan terjadi karena Mandiri Syariah telah melakukan restrukturisasi pembiayaan dalam dua tahun terakhir.

    "Kami lebih selektif, terutama pada sektor yang sangat terpengaruh kurs, ataupun harga minyak dan gas. Sebagai gantinya, pembiayaan atau kredit lebih difokuskan pada sektor pendidikan dan kesehatan seperti pembiayaan pembangunan universitas dan rumah sakit, yang cenderung tidak terpengaruh oleh kurs rupiah yang tengah melemah.

    Baca berita tentang BPJS Kesehatan lainnya di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komposisi Utang Merpati Nusantara Airlines

    Asa bisnis Merpati Nusantara Airlines mengembang menyusul putusan Pengadilan Niaga Surabaya yang mengabulkan penundaan kewajiban pembayaran utang.