Rabu, 21 November 2018

Rupiah Menguat, Industri Retail Tak Lantas Optimistis Karena...

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung melihat sepatu dalam acara Midnight Sale di Senayan City, Jakarta, 25 Juni 2016. Dalam Festival Jakarta Great Sale 2016 menargetkan penjualan retail mencapai Rp15,74 triliun. TEMPO/Fajar Januarta

    Pengunjung melihat sepatu dalam acara Midnight Sale di Senayan City, Jakarta, 25 Juni 2016. Dalam Festival Jakarta Great Sale 2016 menargetkan penjualan retail mencapai Rp15,74 triliun. TEMPO/Fajar Januarta

    TEMPO.CO, Jakarta - Penguatan nilai tukar rupiah belakangan ini tak lantas membuat pengusaha retail optimistis. Pasalnya hingga akhir tahun 2018, mereka memperkirakan prospek bisnis belum akan membaik karena secara keseluruhan masih terpukul akibat tren pelemahan rupiah sejak awal tahun. 

    Baca: Rupiah Capai Level Terkuat Sejak 2016, Darmin: Ekspektasi Membaik

    Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia, Roy Nicholas Mandey, berharap pertumbuhan ritel pada kuartal terakhir tahun berjalan bisa mencapai 11-12 persen. Dengan begitu, target pertumbuhan industri ritel sebesar 10-11 persen di tahun ini dapat tercapai.

    “Kuartal III/2018 pertumbuhan hanya 7 persen, lalu kuartal II/2018 mencapai 15 persen karena Lebaran dan kuartal I/2018 kemarin capai sekitar 8 persen,” kata Roy, Rabu, 7 November 2018. Ia berharap konsumsi masyarakat menjelang Natal dan Tahun Baru bisa kembali diandalkan untuk mengerek pertumbuhan penjualan retail.

    Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate, kurs meneruskan tren positif dengan berada di level Rp 14.651 per dolar AS pada Kamis, 8 November 2018. Angka itu lebih kuat 113 poin ketimbang Rabu, 7 November 2018. Kala itu, nilai tukar berada di angka Rp 14.764 per dolar AS.

    Lonjakan kurs rupiah saat ini juga tercatat lonjakan tertinggi sejak Juni 2016 dan penguatan terbesar dibandingkan dengan mata uang di Asia lainnya. Namun, sepanjang 2018, rupiah mencatatkan pelemahan 7,09 persen terhadap dolar AS.

    Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto memprediksi industri retail kembali meredup karena masih bergantung pada konten impor dan tertekan pelemahan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Selain itu, pelemahan iklim bisnis ritel dipengaruhi daya beli konsumen yang stagnan di level 5 persen.

    “Bahkan, pada kuartal III/2018 (daya beli konsumen) melandai ke level 5,01 persen karena efek Lebaran usai,” tutur Eko.

    Eko menyarankan para peretail dapat mengoptimalkan momentum libur akhir tahun dan Natal pada kuartal IV agar terjadi peningkatan belanja konsumen dan produksi oleh pelaku usaha. “Terlebih, lagi libur akhir tahun bersamaan dengan libur anak sekolah,” katanya.

    Selain itu, untuk memastikan bahwa potensi peningkatan permintaan pada akhir tahun diisi oleh kegiatan ekonomi domestik, para pelaku UMKM juga didorong seluas-luasnya memanfaatkan momentum ini. “Termasuk saat Harbolnas yang akan diadakan pada 12 Desember. Kesempatan itu perlu melibatkan seoptimal mungkin produk-produk dalam negeri,” tuturnya.

    Baca: Soal Rupiah, Indef: Kebijakan Pemerintah Jangan Blunder Lagi

    Untuk itu, pemerintah dinilai perlu memberikan insentif bagi peretail yang menjual produk dalam negeri. Insentif juga dapat diberikan kepada konsumen yang membeli produk dalam negeri dengan mendapat diskon lebih besar. “Insentif ini akan meningkatkan daya beli konsumen dan penjualan ritel,” ucap Eko.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komposisi Utang Merpati Nusantara Airlines

    Asa bisnis Merpati Nusantara Airlines mengembang menyusul putusan Pengadilan Niaga Surabaya yang mengabulkan penundaan kewajiban pembayaran utang.