Rabu, 21 November 2018

Mandiri Syariah Bukukan Laba Bersih Rp 435 Miliar di Triulan III

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bank mandiri Syariah. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Bank mandiri Syariah. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Bank Syariah Mandiri (Mandiri Syariah) kembali mencatatkan pertumbuhan laba bersih pada triwulan III 2018. Laba meningkat 67 persen year-on-year (yoy) mencapai Rp 435 miliar, atau lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya mencapai Rp 261 miliar.

    Peningkatan yang dibukukan oleh Mandiri Syariah ini juga lebih tinggi dibandingkan peningkatan laba bersih pada triwulan II 2018 yang sebesar 44,08 persen yoy atau Rp 261 miliar. Selain itu, laba bersih hingga September 2018 sebesar Rp 435 miliar ini juga lebih tinggi dibanding total laba Rp 365 miliar pada 2017.

    Direktur Utama Mandiri Syariah Toni Eko Boy Subari bersyukur pertumbuhan laba bersih ini juga diikuti oleh membaiknya sejumlah indikator, seperti menurunnya Non Performing Financing (NPF) dan meningkatnya kredit bagi masyarakat. "Kami ingin tumbuh sehat dan sustain", kata Tony dalam konferensi pers di Kantor Mandiri Syariah, Jakarta Pusat, Kamis, 8 November 2018.

    Tony menyebut, pertumbuhan laba didorong oleh penumbuhan bisnis dari sektor pembiayaan dan pendanaan, Fee Based Income (FBI) atau pendapatan berbasis biaya, perbaikan kualitas pembiayaan, dan efisiensi biaya. Dari sisi pembiayaan atau kredit bagi masyarakat, terjadi pertumbuhan 11,11 persen (yoy) pada triwulan III 2018 ini. Sementara sisi pendanaan, Mandiri Syariah mencatatkan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 10,07 persen dari Rp74,75 triliun pada triwulan III 2017 menjadi Rp82,28 triliun.

    Selanjutnya, peningkatan berbasis biaya tumbuh 16,34 persen (yoy) atau Rp681 miliar menjadi Rp792 miliar. Peningkatan tersebut disumbang oleh kenaikan transaksi elektronik channel dan bisnis treasury. Terakhir, terjadi perbaikan kualitas dengan penurunan pada kredit bermasalah. Mandiri mencatat NPF Nett pada triwulan III 2018 mencapai 2,51 persen, atau turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 3,12 persen. Lalu NPF Gross turun dari 4,69 persen menjadi 3,65 persen.

    Direktur Keuangan dan Strategi Mandiri Syariah, Ade Cahyo Nugroho, menyebut pertumbuhan laba bersih ini memang tak lepas dari menurunnya rasio kredit bermasalah. Penurunan terjadi karena Mandiri Syariah telah melakukan restrukturisasi pembiayaan dalam dua tahun terakhir. "Kami lebih selektif, terutama pada sektor yang sangat terpengaruh kurs, ataupun harga minyak dan gas," kata dia.

    Salah satu contoh terjadi pada pembiayaan valuta asing. Menurut Ade, sudah satu tahun lebih Mandiri Syariah tidak lagi membiayai valas dan proporsinya saat ini tidak lebih dari 5 persen dari total pembiayaan. Sebagai gantinya, pembiayaan atau kredit lebih difokuskan pada sektor pendidikan dan kesehatan. Salah satunya, dengan pembiayaan untuk pembangunan universitas dan rumah sakit, yang cenderung tidak terpengaruh oleh kurs rupiah yang tengah melemah.

    Dengan capaian ini, kata Tony, Mandiri Syariah semakin memantapkan posisinya sebagai salah satu pemimpin dalam pasar perbankan syariah di Indonesia. Kini, aset Mandiri Syariah adalah terbesar dari seluruh perbankan syariah di Indonesia dan 17 terbesar dari seluruh perbankan. Pangsa pasar pun telah mencapai 21,38 persen dari bisnis perbankan syariah nasional di umurnya yang memasuki usia 19 tahun.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komposisi Utang Merpati Nusantara Airlines

    Asa bisnis Merpati Nusantara Airlines mengembang menyusul putusan Pengadilan Niaga Surabaya yang mengabulkan penundaan kewajiban pembayaran utang.