Peringatan dari Boeing untuk Maskapai Ternyata Permintaan KNKT

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • (Kiri ke kanan) Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Kepala Basarnas Marsdya M. Syaugi, dan Kapusdokkes Polri Brigjen Arthur Tampi memberikan keterangan pers mengenai proses evakuasi dan pencarian Lion Air JT 610 registrasi pesawat PK-LQP kepada keluarga korban di Jakarta, Senin, 5 November 2018. TEMPO/Subekti

    (Kiri ke kanan) Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Kepala Basarnas Marsdya M. Syaugi, dan Kapusdokkes Polri Brigjen Arthur Tampi memberikan keterangan pers mengenai proses evakuasi dan pencarian Lion Air JT 610 registrasi pesawat PK-LQP kepada keluarga korban di Jakarta, Senin, 5 November 2018. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono mengatakan peringatan yang dikeluarkan oleh pabrikan pesawat Boeing Co. baru-baru ini merupakan hasil dari permintaan lembaganya. Melalui surat kepada Boeing, KNKT memberikan semacam rekomendasi bagi pilot pesawat Boeing 737 MAX 8 lainnya di dunia seandainya mengalami kerusakan pada petunjuk kecepatan atau Air Speed Indicator seperti yang dialami pesawat Lion Air.

    Baca : Cerita Isi FDR Black Box Lion Air, KNKT: Data-data Sesuai Radar

    "Kami melihat apa yang terjadi, bukan cari kesalahan, tapi mencari perbaikan, tidak hanya di Indonesia, tapi seluruh dunia," kata Soerjanto dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta Pusat, Rabu, 7 November 2018.

    Beberapa jam sebelumnya, Boeing diketahui menerbitkan semacam buletin peringatan bagi operator dari pesawat produksi mereka sendiri yaitu Boeing 737 MAX 8. Di dalamnya disebutkan bahwa pembacaan yang salah dari sistem monitor penerbangan dapat menyebabkan pesawat tiba-tiba menukik.

    "Boeing akan mengingatkan pilot untuk mengikuti prosedur yang ada untuk mengatasi problem ini," ujar sumber yang enggan disebut namanya kepada Bloomberg, seperti dikutip Bisnis.com, Rabu, 7 November 2018.

    Peringatan ini berdasarkan temuan awal dari kecelakaan yang menimpa Lion Air JT-610. Adapun dalam sejumlah kondisi yang mengharuskan pilot menerbangkan secara manual, Max akan otomatis menurunkan moncong ketika mendeteksi kemungkinan aerodynamic stall – istilah penerbangan terkait gaya aerodynamic yang bisa mempengaruhi pesawat.

    Aerodynamic stall ini juga berkaitan dengan adanya perbedaan pada Angle of Attack (AOA) sensors yang dialami Lion Air saat terbang dari Bali menuju Jakarta, sehari sebelum pesawat jatuh.

    Dari pengecekan Flight Data Recoerder (FDR), KNKT menemukan perbedaan 20 derajat antara AOA di sisi pilot dan copilot sehingga diduga telah menyebabkan masalah saat penerbangan. AOA ini berkaitan langsung dengan kerusakan pada petunjuk kecepatan.

    Beruntung, saat itu pilot pesawat berhasil mengatasi masalah ini dan mendaratkan pesawat dengan selamat di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang. Keberhasilan pilot inilah yang dijadikan KNKT bahan rekomendasi bagi maskapai lain di dunia yang mengalami masalah yang sama. Bagi KNKT, rekomendasi ini hanya tambahan bagi prosedur yang tentunya juga sudah dimiliki Boeing sebagai produsen.

    Kepala Sub Komite Kecelakaan Penerbangan KNKT Nurcahyo Utomo menyebut maksud lain dari permintaan ini. Ia menilai, jika peringatan langsung datang dari Boeing, maka maskapai-maskapai penerbangan pengguna Boeing 737 MAX 8, termasuk maskapai Indonesia, akan lebih mendengarkan. "Coba KNKT langsung ke maskapai, belum tentu," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.