Ini Taktik Pertamina Genjot Produksi Minyak Lapangan Tua

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas tengah melakukan pengisian bahan bakar jenis Premium di SPBU kawasan Matraman, Jakarta, Kamis, 11 Oktober 2018. Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini M. Soemarno meminta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan menunda kenaikan harga Premium menjadi Rp 7.000 per liter karena ketidaksiapan PT Pertamina. Tempo/Tony Hartawan

    Petugas tengah melakukan pengisian bahan bakar jenis Premium di SPBU kawasan Matraman, Jakarta, Kamis, 11 Oktober 2018. Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini M. Soemarno meminta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan menunda kenaikan harga Premium menjadi Rp 7.000 per liter karena ketidaksiapan PT Pertamina. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Pertamina EP (Eksplorasi dan Produksi) tengah menggenjot kapasitas produksi dari ratusan lapangan minyak yang ada di Indonesia. Dari total 300 lapangan minyak yang saat ini tersebar di seluruh Indonesia, 90 persennya adalah lapangan minyak tua atau mature field berumur lebih dari 40 tahun.

    Baca: Rini Soemarno Minta Pertamina Tunda Terbitkan Obligasi

    "Tantangan terbesar adalah bagaimana mengatasi decline (penurunan) dari lapangan yang sudah eksisting, kami berharap di tahun 2018 ada turning point (titik balik)," kata Presiden Direktur PT Pertamina EP, Nanang Abdul Manaf dalam diskusi di Jakarta, Rabu, 7 November 2018.

    Pertamina EP mencatat, sejumlah lapangan minyak tua seperti Lapangan Sukowati, Jawa Timur; Lapangan Tambun, Jawa Barat; Lapangan Limau, Sumatera Selatan; dan Lapangan Bunyu tepatnya di BN-18, Kalimantan Utara, masih menunjukkan kenaikan produksi dari 2008 hingga puncaknya tahun 2010. Saat itu, lapangan-lapangan ini masih sanggup memproduksi minyak hingga 129 ribu barel per hari.

    Tapi setelah itu, produksi terus menurun menjadi hanya 77 ribu barel per hari di tahun 2018. Lalu jumlah sumur bor berkurang dari 113 titik di tahun 2012, menjadi hanya 50 titik di tahun 2018. Penurunan ini ikut terjadi lantaran tiga tahun sebelumnya yaitu pada 2015, banyak mitra dari Pertamina EP menutup sejumlah lapangan minyak karena kesulitan finansial.

    Untuk itu, Pertamina EP pun menyiasatinya dengan sejumlah strategi. Pertama, Pertamina melakukan periodik optimasi eksisting melalui SSOP (Sistem Sinergi Optimalisasi Produksi). Kedua, Pertamina EP juga mematangkan kajian subsurface dan surface di lapangan-lapangan minyak tua tersebut. "Selanjutnya, kami harus efektif, bujet kami fokuskan pada operasi, lalu untuk eksplorasi," ujarnya.

    Selain itu, strategi khusus juga dilakukan di tiap-tiap lapangan minyak. Nanang mencontohkan lapangan minyak Sukowati di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Jika pada tahun ini, rata-rata produksi mencapai lebih dari 7.000 barel per hari, maka Pertamina EP menargetkan produksinya pada 2019 bisa nail menjadi 10.903 barel per hari.

    Untuk mencapai target itu, PT Pertamina EP menjalankan empat strategi. Pertama yaitu pengembangan lapangan Sukowati pada POD (Plan of Development) phase 5, optimisasi POD dengan penambahan satu sumur injeksi, perbaikan bonding semen, dan updating dinamik reservoir terkait dengan current water level.

    SVP Upstream Strategic Planning & Operation Evaluation, Direktorat Hulu, PT Pertamina (Persero) Meidawati menyebut pengelolaan lapangan tua ini memang banyak tantangannya. "Bagaimanapun aset yang tua tentu biaya perawatannya lebih mahal dibanding baru, kami harus kontrol biayanya," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.