Rabu, 21 November 2018

Riset Indef: Dana Pendidikan Banyak Digunakan untuk Gaji Guru

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • (kiri ke kanan) Ekonom Senior Universitas Indonesia Faisal Basri, Kepala Departemen Statistik Bank Indonesia Yati Kurniati, Direktur Eksekutif INDEF Enny S. Hartati, dan Direktur Strategi dan Portofolio Utang Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Schneider Siahaan dalam diskusi Iluni UI di Kampus Salemba UI, Jakarta Pusat, 3 April 2018. TEMPO/Lani Diana

    (kiri ke kanan) Ekonom Senior Universitas Indonesia Faisal Basri, Kepala Departemen Statistik Bank Indonesia Yati Kurniati, Direktur Eksekutif INDEF Enny S. Hartati, dan Direktur Strategi dan Portofolio Utang Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Schneider Siahaan dalam diskusi Iluni UI di Kampus Salemba UI, Jakarta Pusat, 3 April 2018. TEMPO/Lani Diana

    TEMPO.CO, Jakarta - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengeluarkan riset teranyar soal ketimpangan ekonomi di masyarakat pasca penerapan otonomi daerah.

    Simak: Indef: Utang dan Defisit Bisa Jadi Pencabut Nyawa Ekonomi RI

    Peneliti Indef Rusli Abdullah menemukan besar belanja pendidikan terhadap total belanja negara ternyata sejalan dengan peningkatan ketimpangan di masyarakat.

    "Diduga, belanja pendidikan belum optimal untuk peningkatan kualitas pendidikan," ujar Rusli di Jakarta, Rabu 7 November 2018. Alih-alih, belanja pendidikan itu lebih dipergunakan untuk belanja rutin gaji guru dan pembangunan infrastruktur birokrasi.

    Belanja pendidikan saat ini memang mendapatkan alokasi sebesar 20 persen dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Namun, menurut Rusli perbaikan kualitas pendidikan bukan hanya soal persentase alokasi dana.

    Untuk itu, Rusli melihat peninjauan hasil belanja pendidikan seharusnya tidak cukup sampai outputnya saja, misalnya rampungnya pembangunan sekolah atau fasilitas lain. "Harusnya lihat outcome, misalnya partisipasi membaik enggak, jadi rajin membaca buku enggak, lalu liat impactnya, semakin pandai enggak," ujar dia. "Masalahnya selama ini kita hanya lihat sampai output saja, sudah selesai bangun berapa sekolah dan lainnya."

    Hal ini berbeda dengan belanja kesehatan yang berkorelasi negatif dengan ketimpangan. Artinya, kata Rusli, belanja kesehatan lebih berkualitas dibandingkan dengan belanja pendidikan dalam menyediakan pelayanan dasar sebagai modal terwujudnya kesempatan yang sama dalam mengakses kegiatan produktif. 

    Direktur Indef Enny Sri Hartati mengatakan belum efektifnya belanja pendidikan dapat dilihat dari beberapa sampel ruangan kelas di beberapa sekolah di daerah. Masih banyak ruangan kelas yang belum memenuhi standar minimum.

    "Adakah kantor dinas pendidikan yang fisiknya tidak memenuhi persyaratan? dana 20 persen lebih banyak buat fisik yang sifatnya birokrasi bukan prasarana pendidikan," tutur Enny.

    Dilansir dari buku hasil penelitian Indef soal ketimpangan itu, semakin tinggi rasio belanja pendidikan, maka indeks gini semakin melebar. Satu persen kenaikan rasio belanja pendidikan dapat berkontribusi bagi kenaikan indeks gini sebesar 0,001.

    Ini berkebalikan dengan hasil yang ditemukan oleh penelitian internasional yang menyebut semakin tinggi capaian indikator pendidikan maka akan mereduksi ketimpangan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Empat Sisi Gelap Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman

    Kasus pembunuhan Jamal Khasoggi yang diduga dilakukan oleh Kerajaan Arab Saudi membuat dunia menyorot empat sisi gelap Mohammed bin Salman.