Rabu, 21 November 2018

Nilai Ekonomi Digital Bakal Tembus USD 130 Miliar di 2020

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung mengamati perajin yang menenun kain di stan pameran CreatiVillage World Conference on Creative Economy (WCCE) di Nusa Dua, Bali, Selasa, 6 November 2018. ANTARA/Fikri Yusuf

    Pengunjung mengamati perajin yang menenun kain di stan pameran CreatiVillage World Conference on Creative Economy (WCCE) di Nusa Dua, Bali, Selasa, 6 November 2018. ANTARA/Fikri Yusuf

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyampaikan bahwa Indonesia merupakan rumah bagi ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Kebangkitan ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai US$ 130 miliar pada 2020.

    Baca juga: Darmin Nasution: Pemerintah Siapkan Perluasan Insentif Pajak

    "Nilainya mewakili 12 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), yang menjadikan Indonesia rumah bagi ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, melebihi negara-negara lain di kawasan ini," kata Rudiantara saat memberikan pemaparan pada Konferensi Ekonomi Kreatif Dunia atau World Conference Creative Economy (WCCE) di Nusa Dua, Bali, Rabu, 7 November 2018.

    Rudiantara menyampaikan, Asia akan menjadi penggerak utama budaya kreativitas dan inovasi ini, khususnya inovasi digital, dengan kebangkitan ekonomi kreatif dan digital seperti di China, India dan Indonesia. "Saya mengulangi, Indonesia hanya di belakang China, India, dan Jepang, sebagai ekonomi digital dan kreatif terbesar di Asia Tenggara," ungkapnya.

    Hal ini merupakan kabar baik, karena nilai investasi Indonesia akan meningkat dan iklim investasi serta ekonomi digitalnya berkembang pesat menjadi sangat menarik bagi perusahaan rintisan untuk masuk.

    Menurutnya, ekonomi digital global tumbuh dengan sangat cepat. Hampir dua kali lipat antara tahun 2000 dan 2016, yang tumbuh 2,5 kali lebih cepat daripada PDB global selama periode ini. Dengan asumsi tingkat pertumbuhan saat ini, investasi digital selama 10 tahun ke depan, diperkirakan mencapai 23 triliun dolar AS secara global pada 2025, atau 24,3 persen dari PDB global.

    Menkominfo memaparkan, ekonomi digital memiliki dua elemen, yakni pemikiran kreatif dan digitalisasi, di mana pemikiran kreatif kerap datang dari kaum milenial.

    "Kita tahu bahwa milenial adalah aktor yang mendorong digitalisasi atau transformasi digital, karena mereka paham teknologi dan mudah menyerap tren baru dalam teknologi," ungkapnya.

    Millenial atau pemuda adalah kelompok usia ini mengaburkan kehadiran online atau digital dengan kehadiran offline, yang terlihat dari banyak aktivitas mereka di pasar daring.

    Ledakan populasi Indonesia diperkirakan berkontribusi pada 'bonus demografis' pada tahun 2030. Populasi pemuda tambahan akan menjadi kekuatan pendorong ekonomi digital karena hingga 180 juta pemuda usia produktif akan memasuki angkatan kerja pada tahun 2030.

    "Dengan demikian, tidak mengherankan bahwa ekonomi digital diharapkan tumbuh dan berkontribusi pada 12 persen dari PDB pada 2020," ujarnya. Kendati demikian, elemen digitalisasi masih menjadi tantangan, karena aksesnya belum merata.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Empat Sisi Gelap Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman

    Kasus pembunuhan Jamal Khasoggi yang diduga dilakukan oleh Kerajaan Arab Saudi membuat dunia menyorot empat sisi gelap Mohammed bin Salman.