Rabu, 21 November 2018

Prabowo Bermimpi Stop Impor Pangan, Ini Caranya

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto, disaksikan Ketua Umum Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan (kiri), menyampaikan pidato saat mengunjungi Pondok Pesantren Darul Qur'an Salafiyah di Demakijo, Karangnongko, Klaten, Jawa Tengah, Selasa, 30 Oktober 2018. Kunjungan tersebut sebagai ajang silaturahmi dengan umat Islam di Klaten. ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho

    Calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto, disaksikan Ketua Umum Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan (kiri), menyampaikan pidato saat mengunjungi Pondok Pesantren Darul Qur'an Salafiyah di Demakijo, Karangnongko, Klaten, Jawa Tengah, Selasa, 30 Oktober 2018. Kunjungan tersebut sebagai ajang silaturahmi dengan umat Islam di Klaten. ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota tim kajian analisis Badan Pemenangan Nasional pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto - Sandiaga Uno, Sapto Waluyo mengatakan timnya telah melakukan kajian terkait janji Prabowo untuk menyetop impor bila terpilih sebagai presiden. "Paling penting, produktivitas harus ditingkatkan," ujar Sapto di Restoran Rantang Ibu, Jakarta Selatan, Rabu, 7 November 2018.

    Baca juga: Prabowo tentang Ekonomi Rakyat Pas-pasan, Ini Data Credit Suisse

    Cara meningkatkan produktivitas, kata dia, misalnya dengan menggalakkan mekanisasi dalam sektor pertanian. Metode tersebut, menurut dia, sudah diterapkan di Jawa Barat kala Gubernur Ahmad Heryawan menjabat.

    Disamping itu, mekanisasi juga diikuti dengan pendampingan petani-petani. "Dengan pembenahan sistem di dalamnya, produktifitas akan meningkat," kata Sapto.

    Dengan meningkatkan produktifitas, Sapto yakin kebutuhan nasional bisa dipenuhi.  Sehingga alih-alih impor, Indonesia bisa menjadi negara pengekspor. Teknologi juga, kata dia, bisa diterapkan pada pergudangan.

    "Di Nusa Tenggara Barat, kami lihat masalahnya adalah mereka tidak punya pergudangan yang memadai untuk menyimpan hasil panen," kata Sapto. Sehingga, hasil panen mudah busuk bila tidak segera dikirim.

    Sebelumnya, pada acara Tabligh Akbar dan Deklarasi Komando Ulama Pemenangan Prabowo Sandi (Koppasandi) di Gelanggang Olahraga Gor Soemantri Brojonegoro, Kuningan, Jakarta, Ahad 4 November 2018, Prabowo Subianto mengatakan, tidak akan memberlakukan impor bila terpilih menjadi Presiden.

    “Saya bersaksi kalau saya menerima amanat bangsa Indonesia, saya akan membuat Indonesia berdiri di kaki sendiri. Kita tak perlu impor saudara-saudara, harus mampu swasembada pangan. Tidak perlu kirim Rp 3 miliar lebih untuk bayar bahan bakar,” kata Calon Presiden nomor urut 02 ini.

    Persoalan komoditas pangan, ujar Sapto, juga bisa diselesaikan dengan menggalakkan diversifikasi pangan sesuai daerahnya masing-masing. Ia meyakini, tidak seluruh wilayah di Indonesia mengonsumsi beras.

    "Buktinya kata Pak Budi Waseso (Kepala Bulog), stok beras kan cukup, tapi semua minta begitu (impor), padahal belum tentu semua memakan beras," kata Sapto.

    Perihal bahan pangan lain yang diimpor, misalnya gandum sebagai bahan baku terigu, menurut Sapto, juga bisa diganti. Ia berujar sempat ada riset yang membuktikan gandum dapat disubstitusi dengan sorgum. meski kualitasnya tidak sehalus terigu gandum.

    "Enggak apa-apa, masyarakat harus dibiasakan hidup keras, jangan dimanjakan sementara negara menombok," ujar Sapto. "Di saat yang sama ada orang yang mengambil rente, itu kita lawan."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komposisi Utang Merpati Nusantara Airlines

    Asa bisnis Merpati Nusantara Airlines mengembang menyusul putusan Pengadilan Niaga Surabaya yang mengabulkan penundaan kewajiban pembayaran utang.