Selasa, 13 November 2018

Surat Terakhir Ustazah Naqiya ke Muridnya Sebelum Naik Lion Air

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Keluarga korban kecelakaan melakukan doa bersama dan tabur bunga di lokasi jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Selasa, 6 November 2018. Pesawat Lion Air JT 610 jatuh pada Senin, 29 Oktober 2018, di perairan Karawang. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Keluarga korban kecelakaan melakukan doa bersama dan tabur bunga di lokasi jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Selasa, 6 November 2018. Pesawat Lion Air JT 610 jatuh pada Senin, 29 Oktober 2018, di perairan Karawang. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Jakarta- Tangis Eti Rohaeti tak terbendung ketika berjalan ke arah dek KRI Banjarmasin, saat kapal tersebut sampai di titik jatuhnya pesawat Lion Air JT 610. Sambil memegang pagar kapal, Eti melafalkan doa untuk Naqiya Azmi, putri sulungnya yang menjadi salah satu korban pesawat itu.

    Baca juga: Lion Air Tanggapi Temuan KNKT Soal Petunjuk Kecepatan Rusak

    Eti terisak melihat lautan dan mengenang anak perempuannya yang merupakan ustazah salah satu Pondok Pesantren di Purwakarta. "Kami terakhir bertemu, lebaran kemarin," ujar dia, Selasa, 6 November 2018.

    Naqiya seharusnya pulang ke kampung halamannya di Bangka Belitung dengan penerbangan Lion Air JT 619, setelah berbulan-bulan tidak bersua keluarga. Rindu sudah tak terbendung, banyak rencana yang akan dilakukan Eti untuk menyambut putrinya.

    Namun, rencana tersebut luluh lantah ketika Eti mendapati kabar pesawat yang ditumpangi Naqiya hilang kontak. Saat itu, Eti gusar dengan kabar pesawat jatuh yang masih simpang siur. "Tanggal 30, hari ulang tahunnya Naqiya," tutur Eti sambil menyeka air matanya.

    Eti menunjukkan surat Naqiya untuk anak muridnya. Tidak ada yang menyangka, pesan-pesan tersebut merupakan pesan terakhir sang ustazah untuk para muridnya. Surat itu ditulis tangan dengan ballpoint tinta hitam di atas kertas file, yang biasa digunakan Naqiya untuk mencatat bahan ajarnya.

    Sebelum pulang ke kampung halamannya, Naqiya sempat menuliskan surat untuk anak-anak didiknya di Pondok Pesanten Baitul Qur'an Cirata, Jawa Barat. Dalam surat tersebut Naqiya berpesan agar murid-muridnya tidak melupakan lafalan Alquran yang sedang dipelajari. "Ingat jangan terpaku sama ustazahnya, siapapun ustazahnya setoran enggak boleh kendor, ziadah tetap jalan," tulis dia dalam suratnya.

    Surat yang ditulis satu malam sebelum jatuhnya pesawat Lion Air itu, merupakan catatan personal yang diberikan Naqiya ke tiap muridnya. Dia mengatakan akan pergi untuk beberapa hari dan meminta agar muridnya agar tetap semangat dengan lafalan Alquran yang ditargetkan.

    Kenangan tersebut, kata Eti, tidak akan dilupakan oleh murid-murid Naqiya. Walaupun, hingga saat ini keluarga masih terus menantikan kejelasan jasad Naqiya yang belum ditemukan. "Mudah-mudahan dengan saya ke sini, segera ada titik terang," tutur Eti.

    Eti bersama ratusan keluarga korban lainnya berlayar bersama KRI Banjarmasin untuk melihat lokasi jatuhnya pesawat. Setidaknya sudah satu minggu Eti dan suaminya menanti kepastian mengenai nasib anaknya di Jakarta. "Insya Allah saya ikhlas, tapi saya masih menunggu kejelasan," kata dia.

    Kepala Basarnas Muhammad Syaugi yang turut dalam pelayaran tersebut mengatakan masih memungkinkan untuk memperpanjang masa pencarian. Alasannya masih ditemukan bagian tubuh dari para korban. Namun, Syaugi masih akan melihat kondisi di lapangan soal tren temuan.

    Selain menemani keluarga korban ke titik jatuhnya pesawat, Syaugi menuturkan pencarian CVR Lion Air menunjukkan titik terang. "Kemungkinan CVR berada di lumpur atau pasirnya cukup dalam lebih dari 1 meter," ujar dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?