Moody's: Pertumbuhan Ekonomi Negara G-20 di 2019 Bakal Melambat

Suasana gedung bertingkat di kawasan Bundaran HI, Jakarta usai diguyur hujan (8/1). Target pertumbuhan ekonomi pada kisaran 6,4-6,9 persen pada tahun 2014 dinilai realistis. Hal ini terkait dengan kondisi ketidakstabilan global yang masih akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional. Tempo/Aditia Noviansyah

TEMPO.CO, JakartaMoody’s Investor Service memperkirakan pertumbuhan negara kelompok 20 (G20) bakal mencapai puncak pada 2018 sebesar 3,3 persen sebelum turun menjadi 2,9 persen pada 2019.

Baca: Moody's Ingatkan Dampak Negatif Jika Rupiah Terus Melemah

Adapun untuk pertumbuhan negara-negara maju di G20, Moody’s memperkirakan pertumbuhannya akan jatuh menjadi 1,9 persen pada 2019 dari 2,3 persen pada 2018 yang mana hal ini akan mencerminkan performa ekonomi utama, seperti AS dan Jerman.

“Gambaran untuk emerging market di G-20 menjadi lebih beragam, pertumbuhan pada 2019 akan melambat ketimbang 2018 ke sekitar 4,6 persen dari 5 persen,” kata Alastair Wilson, Moody's Managing Director Global Sovereign Risk, seperti dikutip dari pernyataan, Selasa, 6 November 2018.

Adapun perlambatan pertumbuhan itu berarti tantangan bagi peringkat utang setiap negara telah semakin dekat. Tantangan itu terkait tingkat utang swasta dan privat yang dimiliki serta tren jangka panjang mengenai populasi tua dan ketidakseimbangan.

Moody's juga memprediksi peringkat utang global pada tahun depan akan stabil, sesuai dengan perkiraan untuk kondisi fundamental. Hal ini terlihat dari outlook terbaru dari Moody’s yang berjudul Sovereigns – Global: 2019 Outlook Still Stable, but Slowing Growth Signals Increasingly Diverging Prospects yang dirilis pada hari ini, Selasa, 6 November 2018.

Sebanyak 104 negara dari 138 negara yang mendapatkan peringkat utang dari Moody’s memiliki outlook stabil. Sementara 11 persen negara lainnya mendapat outlook yang positif dan 14 persen sisanya memiliki outlook negatif.

“Outlook stabil kami pada 2019 menyeimbangi manfaat keberlanjutan pertumbuhan global terhadap risiko domestik emerging dan geopolitik,” tulis Moody's. 

Namun begitu, Moody’s tetap menambah perhatian terhadap kejutan tidak terduga. Pasalnya hal itu dapat mengganggu stabilitas ekonomi dan keuangan dalam 12—18 bulan ke depan.

Baca: Moodys Pangkas Rating 15 Bank Besar

Moody’s juga mencatat bahwa tingginya tingkat utang, melambatnya pertumbuhan, dan kenaikan suku bunga dapat berisiko menyebabkan kejutan yang dapat merusak keterjangkauan dan keberlanjutan utang. Sementara itu, sejumlah negara emerging market masih rentan terhadap kondisi pengetatan keuangan global dan meningkatnya proteksionisme dagang.

BISNIS






Pasar SBN Menguat di Awal 2023, Sri Mulyani: Didorong Pembelian oleh Investor Nonresiden

18 jam lalu

Pasar SBN Menguat di Awal 2023, Sri Mulyani: Didorong Pembelian oleh Investor Nonresiden

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebutkan pasar Surat Berharga Negara (SBN) melanjutkan penguatan di awal tahun 2023. Ini buktinya.


Sri Mulyani: Realisasi Belanja Negara 2022 Tumbuh, Ekonomi Pulih dan Dunia Usaha Bangkit

22 jam lalu

Sri Mulyani: Realisasi Belanja Negara 2022 Tumbuh, Ekonomi Pulih dan Dunia Usaha Bangkit

Sri Mulyani mengatakan APBN telah bekerja untuk melindungi daya beli masyarakat dan menopang pemulihan ekonomi.


Pegawai Negeri Disebut Sejahtera, Ini Rincian Gaji ASN

4 hari lalu

Pegawai Negeri Disebut Sejahtera, Ini Rincian Gaji ASN

Gaji ASN di atas rata-rata pendapatan masyarakat Indonesia. Jika dirasa masih kurang itu karena ada cicilan utang alias kreditan.


Tumpukan Utang Negara Dikritik AHY, Ketua Banggar DPR Bela Pemerintah: Info yang Disajikan Tak Utuh

4 hari lalu

Tumpukan Utang Negara Dikritik AHY, Ketua Banggar DPR Bela Pemerintah: Info yang Disajikan Tak Utuh

Ketua Banggar DPR Said Abdullah merespons kritik yang disampaikan Keyua Umum Partai Demokrat AHY soal rasio utang negara.


DPR Sebut Kebijakan Utang Pemerintah Tak Melanggar Undang-undang

4 hari lalu

DPR Sebut Kebijakan Utang Pemerintah Tak Melanggar Undang-undang

Said Abdullah menegaskan tak ada norma peraturan perundang-undangan yang dilanggar oleh pemerintah dalam menjalankan kebijakan utang.


HUT Garuda Indonesia, Begini Terbang Tinggi dan Rendah Sang Maskapai Pelat Merah

6 hari lalu

HUT Garuda Indonesia, Begini Terbang Tinggi dan Rendah Sang Maskapai Pelat Merah

Hari ini 26 Januari sebagai HUT Garuda Indonesia. Maskapai pelat merah sempat berada di ujung tanduk karena dibekap utang. Bagaimana pasang surutnya?


Dikritik AS Soal Piutang ke Afrika, China Sindir Masalah Utang Washington

7 hari lalu

Dikritik AS Soal Piutang ke Afrika, China Sindir Masalah Utang Washington

China memberikan tanggapan pedas pernyataan Menteri Keuangan AS soal reformasi utang di Afrika, dengan menyinggung masalah utang federal yang sudah menyentuh plafon.


Utang Indonesia Mencapai Lebih dari 7 Triliun, Simak 3 Faktanya

7 hari lalu

Utang Indonesia Mencapai Lebih dari 7 Triliun, Simak 3 Faktanya

Kementerian Keuangan mencatat posisi utang pemerintah mencapai Rp7.733,9 triliun pada akhir Desember 2022.


India Janji Bantu Sri Lanka Atasi Krisis Ekonomi

8 hari lalu

India Janji Bantu Sri Lanka Atasi Krisis Ekonomi

IMF membocorkan kalau India sudah berjanji akan membantu Sri Lanka yang sedang mencari uang pinjaman.


Tanggapan Aktris Itaewon Class Kim Ji Young Dituduh Mantan Pacar Kabur dari Utang

8 hari lalu

Tanggapan Aktris Itaewon Class Kim Ji Young Dituduh Mantan Pacar Kabur dari Utang

Kim Ji Young dituduh memiliki utang hingga tidak bisa dihubungi oleh mantan pacar dan seorang rapper Korea Selatan.