Rabu, 21 November 2018

Pertemuan Trump dan Jinping Berdampak Positif ke Rupiah

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Cina, Xi Jinping dan Presiden AS, Donald Trump. REUTERS

    Presiden Cina, Xi Jinping dan Presiden AS, Donald Trump. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Berlanjutnya penguatan rupiah turut ditopang ekspetasi meredanya perang dagang menyusul rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.

    Baca juga: Nilai Tukar Rupiah Akan Menguat Sepanjang November?

    "Pertemuan antara Presiden Trump dengan Xi Jinping untuk memberikan paling tidak solusi yang positif, sehingga dampaknya juga positif kepada mata uang negara berkembang," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo di Jakarta, Selasa.

    Selain itu, realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal III 2018 yang sebesar 5,17 (tahun ke tahun) persen juga memberikan deskripsi bahwa konsumsi, investasi dan ekspor masih terus bertumbuh, meskipun belum bisa terakselerasi signfikan dan masih dihantui meningkatnya laju impor.

    "Tapi sebenarnya angka pertumbuhan kuartal III itu masih cukup tinggi karena dorongan dari permintaan domestik, investasi dan konsumsi juga masih besar," ujar Dody.

    Nilai tukar rupiah pada Selasa ini menunjukkan berlanjutnya tren penguatan ke level Rp14.800-Rp14.900 per dolar AS dan telah meninggalkan Rp15.000 dalam beberapa hari terakhir. Kurs Refrensi Jakarta Interbank Spot Dolar AS Rate (Jisdor) pada Selasa ini menunjukkan rupiah diperdagangkan di Rp14.891 per dolar AS.

    Di pasar spot hingga pukul 15.00 WIB, rupiah lebih kuat lagi dengan dihargai Rp14.794 per dolar AS.

    Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping, dua pemimpin negara raksasa ekonomi dunia, merencanakan pertemuan di sela-sela pertemuan Grup-20 di Argentina pada akhir November 2018. Pertemuan itu diklaim untuk membahas solusi perang dagang antara dua negara yang telah terjadi sejak awal tahun.

    Semua pelaku pasar keuangan global kini menanti perkembangan dari rencana pertemuan pemangku kebijakan paling berpengaruh itu.

    "Semua berharap positif terhadap pertemuan antara Presiden AS Trump dengan Xi Jinping (Presiden China) untuk memberikan paling tidak solusi yang positif, sehingga dampaknya juga positif kepada mata uang negara berkembang, rupiah pun mengalami penguatan," ujar Dody.

    Sementara itu, BI berjanji akan menjaga nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya dengan melakukan berbagai langkah kombinasi. Upaya itu bisa melalui kenaikan bunga acuan, dan juga intervensi pasar.

    "Stabilisasi rupiah terus kami lakukan, tentunya dalam beberapa hal kombinasi. Kami memainkan suku bunga, intervensi," katanya.

    BI menetapkan suku bunga acuan kebijakan moneter di 5,75 persen per Oktober 2018. Untuk posisi kebijakan moneter di dua bulan terakhir 2018, Bank Sentral masih mengakji data terakhir perekonomian global dan domestik.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komposisi Utang Merpati Nusantara Airlines

    Asa bisnis Merpati Nusantara Airlines mengembang menyusul putusan Pengadilan Niaga Surabaya yang mengabulkan penundaan kewajiban pembayaran utang.