Rabu, 21 November 2018

Laju IHSG Diprediksi Kembali Menghijau

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). ANTARA

    Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Pergerakan IHSG dalam perdagangan hari ini diperkirakan masih dalam zona positif pasca ditutup menguat kemarin. Binaartha Sekuritas memproyeksikan IHSG kembali melaju di zona hijau dalam perdagangan hari ini.

    Analis Muhamad Nafan Aji Gusta mengatakan terlihat pola upward bar yang mengindikasikan adanya potensi bullish continuation sehingga berpeluang menuju ke area resistance.

    Berdasarkan daily pivot dari Bloomberg, support pertama maupun kedua memiliki range pada level 5.895,655 hingga 5.870,716.

    "Sementara itu, resistance pertama maupun kedua memiliki range pada 5.936,083 hingga 5.951,574," seperti dilansir dari Bisnis.com, Selasa 6 November 2018.

    Berdasarkan indikator, MACD sudah berhasil menembus di area positif. Sementara itu, Stochastic dan RSI masih bergerak ke atas di area overbought atau jenuh beli.

    Indosurya Sekuritas memproyeksikan IHSG kian menanjak dalam sesi dagang hari ini dengan pergerakan di level 5.789 - 6.002.

    Vice President Research Department William Surya Wijaya mengatakan pergerakan IHSG masih terlihat akan terus berkonsolidasi sehat.

    Dia memperkirakan laju IHSG dapat kembali menembus resistance level, dan rentang konsolidasi dapat bergeser ke arah yang lebih baik.

    Rilis data penjualan ritel pada hari ini diperkirakan dapat menopang kenaikan IHSG, dan menyebabkan capital inflow.

    Reliance Sekuritas memperkirakan IHSG kembali bergerak terkonsolidasi cenderung tertekan dengan support resistance 5.854-5.960.

    Saham-saham yang masih dapat dicermati di antaranya AKRA, EXCL, JPFA, PGAS, PTBA, MEDC dan PTPP.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Empat Sisi Gelap Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman

    Kasus pembunuhan Jamal Khasoggi yang diduga dilakukan oleh Kerajaan Arab Saudi membuat dunia menyorot empat sisi gelap Mohammed bin Salman.