Sistem Rusak, Lion Air JT 610 Dipandu karena 'Terbang Buta'

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tiga anak almarhum Dodi Junaidi, 40 tahun, yakni Zia (kiri), Mutia (tengah), dan Putri (kanan), berdoa di pusara ayahnya setelah dimakamkan di Rempoa, Tangerang Selatan, Banten, Senin, 5 November 2018. Dodi Junaidi merupakan salah satu korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di perairan Tanjung Karawang. ANTARA/Muhammad Iqbal

    Tiga anak almarhum Dodi Junaidi, 40 tahun, yakni Zia (kiri), Mutia (tengah), dan Putri (kanan), berdoa di pusara ayahnya setelah dimakamkan di Rempoa, Tangerang Selatan, Banten, Senin, 5 November 2018. Dodi Junaidi merupakan salah satu korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di perairan Tanjung Karawang. ANTARA/Muhammad Iqbal

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebelum jatuh menghunjam laut di perairan Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat, pesawat Lion Air dengan kode penerbangan JT 610 dan registrasi pesawat PK-LQP dikabarkan seperti terbang buta. Hal tersebut terjadi karena pesawat dengan jenis Boeing MAX 8 tersebut diduga sempat mengalami masalah pada sistem kendali.

    BACA: Lion Air Jatuh, Direktur Ini Klaim Penjualan Tiket Tetap Stabil

    Kondisi tersebut diketahui dari percakapan antara kopilot Harvino dengan pemandu lalu lintas udara atau air traffic controller (ATC). Kopilot Harvino sempat mengatakan semua instrumen di kokpit selalu menunjukkan angka yang sama. Ia tidak yakin pesawat telah berada di ketinggian 5.000 kaki. Pesawat itu juga minta diberi ruang sejauh 3.000 kaki untuk menghindari kepadatan lalu lintas udara.

    Seperti dikutip dari laporan utama Majalah Tempo edisi Senin, 5 November 2018, diketahui bahwa penerbang tidak tahu kecepatan dan ketinggian pesawat. Pesawat juga terbang manual.

    “JT 610 selalu bertanya berapa airspeed dan ketinggiannya,” kata seorang pejabat di lingkungan penerbangan, seperti dikutip dalam laporan berjudul Singa Merah Terbang Buta tersebut. “Sama seperti kejadian Minggu malam, pesawat seperti terbang buta.” 

    Menurut laporan Majalah Tempo tersebut, seorang pejabat yang mendengar rekaman percakapan JT 610 mengatakan Harvino diduga sebagai pemegang komunikasi dengan menara air traffic controller (ATC).

    Pesawat itu lepas landas dari Soekarno-Hatta pada pukul 06.20 Waktu Indonesia Barat. Satu menit kemudian, Harvino memulai komunikasi dengan pemandu Terminal East ATC. Saat itu, pesawat meminta izin mendaki hingga ketinggian 27 ribu kaki.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Angin Prayitno Aji dan Tiga Perusahaan yang Diperiksa KPK dalam Kasus Suap Pajak

    Angin Prayitno Aji dan Dadan Ramdani ditetapkan KPK sebagai tersangka kasus suap pajak. Dari 165 perusahaan, 3 sedang diperiksa atas dugaan kasus itu.