Selasa, 13 November 2018

Prabowo Janji Stop Impor, BPS Ungkap Peluangnya

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto (kiri) dan adiknya, Hashim Djojohadikusumo saat menghadiri Deklarasi Gerakan Emas di Stadion Klender, Jakarta Timur, Rabu, 24 Oktober 2018. TEMPO/Budiarti Utami Putri.

    Calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto (kiri) dan adiknya, Hashim Djojohadikusumo saat menghadiri Deklarasi Gerakan Emas di Stadion Klender, Jakarta Timur, Rabu, 24 Oktober 2018. TEMPO/Budiarti Utami Putri.

    Jakarta - Merespons pidato calon Presiden Prabowo Subianto soal impor, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menjelaskan mengenai peluang Indonesia bisa bertahan tanpa impor. Menurut dia, Indonesia seharusnya menuju ke titik tanpa impor.

    Baca juga: Prabowo tentang Ekonomi Rakyat Pas-pasan, Ini Data Credit Suisse

    "Sebenarnya kan sudah ada kebijakan tingkat kandungan dalam negeri. Itu harus ditingkatkan," ujar Suhariyanto di Kantor BPS, Jakarta, Senin, 5 November 2018.

    Ia menyebut akan sangat baik apabila industri dalam negeri banyak menggunakan bahan-bahan dari produksi lokal. Sebab, penggunaan produk lokal tentu akan menaikkan nilai tambah produk lokal.

    Pernyataan Suhariyanto itu mengomentari janji Prabowo apabila menjadi presiden. Prabowo berjanji mewujudkan Indonesia yang berdiri di atas kaki sendiri (berdikari) sehingga tidak impor bahan pangan dan energi, bahkan Indonesia bisa swasembada.

    "Saya bersaksi kalau saya dan Sandi menerima mandat rakyat maka akan membuat Indonesia berdiri di atas kaki sendiri sehingga kita mampu swasembada pangan dan energi. Oleh karena itu, ke depannya tidak perlu lagi kita impor 1,3 juta barel minyak," kata Prabowo pada Ahad lalu.

    Menurut Suhariyanto, nilai ekspor pada triwulan III 2018 cukup baik. Sebab, dibandingkan dengan tahun lalu, nilai ekspor tahun ini naik sebesar 8,33 persen.

    "Sementara bila dibandingkan dengan triwulan II, naik 7,84 persen," tutur dia. Pada triwulan III 2018 total nilai ekspor tercatat sebesar US$ 46,99 miliar.

    Meski demikian, nilai impor tercatat lebih tinggi ketimbang ekspor. Pada periode ini nilai impor tercatat sebesar US$ 49,72 persen. Angka tersebut naik 10,25 persen ketimbang triwulan sebelumnya dan naik 23,71 persen bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

    "Neraca perdagangan kita mengalami defisit pada Juli dan Agustus, dan mengalami surplus pada September," ujar Suhariyanto.

    Suhariyanto mengatakan bukan mustahil Indonesia terbebas dari impor. Sebab, saat ini sudah banyak produk yang bisa dibuat di dalam negeri. Namun, ia mengingatkan agar produk-produk lokal harganya bisa bersaing dengan produk impor.

    "Jangan lebih mahal," ujar Suhariyanto. Untuk itu, cara yang bisa dilakukan guna menekan harga antara lain adalah melakukan efisiensi dari berbagai sektor, misalnya perizinan. "Jadi kita memang harus menuju sana, supaya ada value added sehingga banyak manfaat untuk kita."

    Untuk tahap awal guna mencapai Indonesia tanpa impor seperti janji Prabowo, menurut Suhariyanto, hal yang perlu dioptimalkan adalah peningkatan kebijakan tingkat kandungan dalam negeri.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?