Rizal Ramli Sebut Prabowo Tak Akan Tunduk Pada Mafia Pangan

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekonom Rizal Ramli menyambangi gedung Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri, Jakarta, Selasa, 16 Oktober 2018. Kedatangan Rizal Ramli untuk melaporkan politikus Surya Paloh atas dugaan pencemaran nama baik. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Ekonom Rizal Ramli menyambangi gedung Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri, Jakarta, Selasa, 16 Oktober 2018. Kedatangan Rizal Ramli untuk melaporkan politikus Surya Paloh atas dugaan pencemaran nama baik. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom senior Rizal Ramli mengatakan bahwa jika nantinya Prabowo Subianto menang dalam pemilihan presiden (Pilpres) 2019, calon presiden dengan nomor urut 02 tersebut menjanjikan tidak akan berkompromi terhadap adanya mafia pangan. Menurut mantan menteri koordinator bidang kematiriman ini, pernyataan Prabowo tersebut disampaikan melalui adiknya Hashim Djojohadikusumo.

    Baca: Tim Prabowo Protes Orasi Bupati di Aksi Save Tampang Boyolali

    "Saya tanya mas Hashim, adiknya Prabowo, jika seandainya Prabowo menang pada April 2019, apakah Prabowo akan negosiasi dgn mafia kuota pangan tersebut? Hashim bersumpah bahwa Prabowo tidak akan kompromi dengan mafia tersebut," kata Rizal Ramli dalam keteranganya kepada Tempo, Senin, 5 November 2018.

    Pernyataan tersebut dilontarkan Rizal untuk menanggapi rencana pemerintah untuk melakukan impor jagung sebanyak 100 ribu ton untuk digunakan sebagai pakan ternak. Pada Jumat, 2 November 2018, Menteri Koordinator Bidang Ekonomi Darmin Nasution mengatakan harga jagung saat ini sedang naik, padahal sedang diperlukan. Darmin mengatakan, karena itu Menteri Pertaniana, Amran Sulaiman mengusulkan ada impor.

    "Jadi, jagung itu harganya kan naik, padahal itu diperlukan dan Menteri Pertanian mengusulkan ada impor dan perlu cepat untuk perusahaan peternakan kecil menengah, terutama peternakan telur," kata Darmin.

    Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Syukur Iwantoro menjelaskan bahwa dilakukanya impor jagung karena pemerintah melihat perbedaan biaya transportasi tujuan penjualan pasar domestik dan tujuan ekspor. Ia mengambil satu contoh, biaya transportasi dari Pelabuhan Tanjung Priok ke Tanjung Pandan, lebih mahal dari dibandingkan kalau melakukan penjualan ekspor ke Malaysia atau dari Pelabuhan Tanjung Priok ke Pelabuhan Port Klang Malaysia.

    Menurut Rizal, jika cuaca panas sekali, seperti terjadinya El Nino, kebijakan impor memang tidak bisa dihindarkan. Yang penting, lanjut Rizal, impor dilakukan karena memang terjadi adanya kelangkaan riil atau true scarcity.

    Kendati begitu impor tersebut hanya boleh dilakukan tetapi hanya untuk jangka pendek. Sedangkan, impor ugal-ugalan karena kelangkaan buatan atau artificial scarcity adalah kejahatan. Dampaknya, kata Rizal, bisa merugikan petani, konsumen dan juga perekonomian negara.

    Selain menyatakan komitmen Prabowo Subianto, Rizal juga ingin bertanya kepada Presiden Jokowi mengenai komitmennya dalam memberantas mafia pangan tersebut. "Meski belum sempat, tapi saya juga ingin bertanya ke Mas Jokowi, apakah akan tetap membiarkan mafia pangan jika terpilih lagi 2019?" kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.