Selasa, 13 November 2018

Triwulan III 2018, BPS: Ekonomi Tumbuh 5,17 Persen

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto serta Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti di kantor BPS Indonesia, Pasar Baru, Jakarta, 15 Maret 2018. TEMPO/Lani Diana

    Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto serta Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti di kantor BPS Indonesia, Pasar Baru, Jakarta, 15 Maret 2018. TEMPO/Lani Diana

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi triwulan III 2018 sebesar 5,17 persen. Angka tersebut tercatat lebih rendah ketimbang triwulan II 2018 yang mencapai 5,27 persen dan lebih tinggi ketimbang triwulan I 2018, yang sebesar 5,06 persen. Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi tercatat 5,17 persen.

    Simak: BPS: Harga Gabah Naik, Indeks Kesejahteraan Petani Ikut Naik

    Kepala BPS Suhariyanto berujar pertumbuhan pada triwulan ini sedikit lebih lambat ketimbang triwulan sebelumnya lantaran sebelumnya ada momen bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri. "Itu biasanya puncak konsumsi rumah tangga dan transportasi," ujar Suhariyanto di Kantor BPS, Jakarta, Senin, 5 November 2018.

    Secara triwulanan, pertumbuhan ekonomi Indonesia, kata Suhariyanto, adalah sebesar 3,09 persen ketimbang sebelumnya. Besar Produk Domestik Bruto Indonesia pada triwulan III tercatat Rp 3835,6 triliun, sementara kalau pengaruh inflasi dihilangkan akan menjadi Rp 2684,2 triliun.

    Di banding dengan periode yang sama di tiga tahun sebelumnya, pertumbuhan ekonomi triwulan III 2018 adalah yang tertinggi. Pada triwulan III 2015 pertumbuhan ekonomi tercatat 4,78 persen, pada 2016 5,03 persen, dan pada 2017 adalah 5,06 persen.

    Sebelumnya, Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance(Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara memprediksi pertumbuhan ekonomi triwulan III mencapai 5,05 persen. Penurunan pertumbuhan ekonomi ketimbang triwulan sebelumnya itu diduga diakibatkan oleh rendahnya konsumsi rumah tangga pasca Lebaran, geliat industri manufaktur yang tertekan kenaikan biaya bahan baku dan pelemahan kurs rupiah

    Di samping itu, kinerja ekspor dan investasi, menurut Bhima, belum terlalu pulih. Sehingga, andalan pertumbuhan ekonomi periode ini adalah belanja pemerintah melalui bantuan sosial. "Meskipun kontribusinya hanya 9-10 persen dari produk domestik bruto," tutur Bhima.

    Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih memperkirakan pertumbuhan ekonomi triwulan III 2018 berkisar 5,1 - 5,13 persen year-on-year. Angka tersebut lebih baik ketimbang periode yang sama tahun 2017.

    "Faktor pendorong ekonomi utama masih berasal dari konsumsi rumah tangga yang lebih baik di sepanjang Q3-2018, lebih baik dibandingkan Q3-2017," ujar Lana. Selain itu, menurut dia, belanja pemerintah kemungkinan lebih agresif sedangkan investasi melambat dan tercatat neto impor.

    Adapun Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta memprediksi pertumbuhan ekonomi kuartal III sebesar 5,1 persen. "Perang dagang paling banyak faktornya terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal III," kata Nafan.

    Simak berita tentang BPS hanya di Tempo.co

    CAESAR AKBAR | HENDARTYO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?