Pengusaha Sambut Baik Rencana Impor Jagung 100 Ribu Ton

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi jagung. REUTERS/Francois Lenoir

    Ilustrasi jagung. REUTERS/Francois Lenoir

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota Dewan Penasihat Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Sudirman menyambut baik rencana pemerintah soal impor jagung hingga 100 ribu ton tahun ini. Menurut Sudirman, saat ini dan awal tahun depan suplai jagung berkurang.

    Baca juga: Alasan Kementan Usul Impor Jagung Hingga 100 Ribu Ton

    "Kami menyambut baik rencana impor jagung tersebut. Karena memang saat ini, dan sampe awal tahun depan suplai jagung akan shortage (kekurangan)," kata Sudirman saat dihubungi, Ahad, 4 November 2018. "Walaupun sebenarnya 100 ribu ton nggak ‘nendang’ lah".

    Sudirman mengatakan impor jagung tersebut untuk peternak petelur mandiri yang mencampur pakan sendiri. Sudirman mengatakan saat ini harga jagung untuk pakan ternak Rp 5.300 per kilogram.

    Jumat, 2 November, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan harga jagung sedang naik, padahal sedang diperlukan. Darmin mengatakan, karena itu Amran Sulaiman mengusulkan ada impor. "Jadi, jagung itu harganya kan naik, padahal itu diperlukan dan Menteri Pertanian mengusulkan ada impor dan perlu cepat untuk perusahaan peternakan kecil menengah, terutama peternakan telur," kata Darmin.

    Sabtu 3 November, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Syukur Iwantoro menjelaskan alasan perlu impor jagung hingga 100 ribu ton. Hal itu merespons ucapan Darmin Nasution kemarin yang mengatakan Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengusulkan untuk impor jagung. Padahal, kata Syukur saat ini pemerintah mengekspor jagung.

    "Ada suatu pertanyaan, di satu sisi kita ekspor, di sisi lain kita ada rencana impor. Kenapa? Ekspor kadar air dan mutu sama, antar 14-15 persen, yang untuk pakan juga sama mutunya 14-15 persen. Ini yang terjadi, perbedaan biaya transportasi tujuan penjualan pasar domestik dan tujuan ekspor," kata Syukur di Kementerian Pertanian, Jakarta, Sabtu, 3 November 2018.

    Syukur mengambil satu contoh, biaya transportasi dari Pelabuhan Tanjung Priok ke Tanjung Pandan, lebih mahal dibandingkan ekspor ke Malaysia atau dari Pelabuhan Tanjung Priok ke Pelabuhan Port Klang Malaysia.

    Syukur mengatakan dari pelabuhan Tanjung Priok ke Tanjung Pandan, Belitung perjalanan untuk mobil angkut itu setiap 14 ton biayanya Rp 33 juta, belum termasuk biaya solar mobil dan lainnya.

    "Sementara dari Pelabuhan Tanjung Priok ke Port Klang Malaysia untuk 24-27 ton biayanya US$ 1.750 kalau US$ 1 Rp 15 ribu masih sekitar 25 juta itu dengan kapasitas rata-rata 25 ton, biaya tersebut sudah dengan semua pengurusan dokumen," kata Syukur.

    Sedangkan, Syukur mengatakan Darmin telah memerintahkan kepada Amran untuk mengeluarkan rekomendasi impor jagung pakan ternak sebanyak 100 ribu dan menugaskan kepada Perum Bulog untuk melakukan impor.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wabah Virus Corona Datang, 13.430 Narapidana Melenggang

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly memutuskan pembebasan sejumlah narapidana dan anak demi mengurangi penyebaran virus corona di penjara