Sri Mulyani: Pembenahan Defisit Transaksi Berjalan Butuh Waktu

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani mendengarkan paparan  tentang APBN KiTA edisi Oktober di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, Rabu 17 Oktober 2018. ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja

    Menteri Keuangan Sri Mulyani mendengarkan paparan tentang APBN KiTA edisi Oktober di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, Rabu 17 Oktober 2018. ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja

    TEMPO.CO, Jakarta -Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pembenahan defisit neraca transaksi berjalan yang dilakukan dengan menekan impor dan mendorong ekspor, belum langsung terlihat hasilnya, karena masih membutuhkan waktu.

    Baca juga: Bidik Sukuk ST-002 Terjual Rp 1 T, Sri Mulyani Gandeng Influencer

    "Momentum perbaikan dilakukan secara bertahap dan tidak bisa langsung terlihat pada triwulan yang sama," kata Sri Mulyani di Jakarta, Kamis, 1 November 2018.

    Sebelumnya, pemerintah dan Bank Indonesia berupaya untuk menekan defisit neraca transaksi berjalan yang selama ini merupakan salah satu penyebab terjadinya gejolak nilai tukar terhadap dolar AS.

    Sri Mulyani mengatakan pemerintah telah berupaya menekan defisit neraca transaksi berjalan melalui pengendalian kebutuhan impor proyek infrastruktur, implementasi mandatori biodiesel B20 serta perluasan cakupan produk yang dikenakan PPh impor.

    Selain itu, pemerintah terus mendorong kebijakan peningkatan daya saing untuk meningkatkan produktivitas dalam negeri serta gencar melakukan promosi ekspor non tradisional sebagai antisipasi dalam menghadapi ancaman perang dagang.

    Namun, upaya pembenahan ini tidak bisa terlihat hasilnya dalam waktu cepat, karena bersifat struktural, yang membutuhkan periode yang lama.

    Meski demikian, Sri Mulyani optimis kebijakan ini bisa membuahkan hasil karena perbaikan iklim investasi terus dilakukan melalui sistem pelayanan terpadu serta pemberian insentif perpajakan dan pertumbuhan kredit perbankan tumbuh 12,69 persen hingga triwulan III-2018.

    "Kita terus menjaga momentum untuk menjaga investasi dan devisa masuk, itu cara kerja kita, karena 'policy' kita struktural yang tidak bisa dilihat dalam jangka pendek," ujar Sri Mulyani.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Traveling Virtual di Masa Pandemi Covid-19

    Dorongan untuk tetap berjalan-jalan dan bertamasya selama pandemi Covid-19 masih tinggi.