BPS: Inflasi Oktober 0,28 Persen Dipicu oleh Kenaikan Harga BBM

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto saat jumpa wartawan mengenai perkembangan ekspor dan impor di Gedung BPS Pusat, Jakarta Pusat, 16 Oktober 2017. Tempo/M JULNIS FIRMANSYAH

    Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto saat jumpa wartawan mengenai perkembangan ekspor dan impor di Gedung BPS Pusat, Jakarta Pusat, 16 Oktober 2017. Tempo/M JULNIS FIRMANSYAH

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) selama Oktober 2018 mengalami inflasi sebesar 0,28 persen. Adapun inflasi tahunan dan tahun kalendernnya mencapai masing-masing 3,16 persen dan 2,22 persen.

    Baca: Alasan Ekonom Perkirakan Inflasi Oktober Capai 0,2 Persen

    Dari 82 kota yang disurvei BPS, 66 kota mengalami inflasi dan 16 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi di Palu dan terendah di Cilegon, sementara deflasi terendah di Bengkulu dan tertinggi di Bengkulu. 

    Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengungkapkan inflasi 0,28 persen itu didorong oleh kenaikan harga cabai merah, bahan bakar minyak atau BBM dan tarif sewa rumah. Cabai merah memiliki andil inflasi 0,09 persen, BBM 0,06 persen dan tarif sewa rumah 0,03 persen.

    Seperti diketahui PT. Pertamina (Persero) sebelumnya pada 10 Oktober 2018 lalu menaikkan harga Bahan Bakar Minyak atau BBM di SPBU, khususnya Pertamax Series dan Dex Series, serta Biosolar Non PSO. External Communication Manager PT Pertamina (Persero) Arya Dwi Paramita mengatakan penyesuaian harga itu merupakan dampak dari harga minyak mentah dunia yang terus merangkak naik di mana saat ini harga minyak dunia rata-rata menembus 80 dolar per barel.

    "Di mana penetapannya mengacu pada Permen ESDM No. 34 tahun 2018 Perubahan Kelima Atas Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 39 Tahun 2014, Tentang Perhitungan Harga Jual Eceran BBM," ujar Arya pada pertengahan bulan lalu.

    Adapun komoditas yang menahan laju inflasi antara lain telur ayam, bawang merah dan angkutan udara yang mengalami deflasi. Jika dilihat secara tahunan, inflasi sebesar 3,16 persen dinilai masih cukup terkendali atau di bawah target yang ditetapkan pemerintah 2,5-4,5 persen pada tahun ini.

    "Masih ada dua bulan lagi kami harapkan harga pangan dan lain tetap stabil sehingga target yang ditetapkan bisa tercapai," ujar Suhariyanto, Kamis, 1 November 2018.

    Secara komponen, penyumbang inflasi tertinggi antara lain sandang yang mengalami inflasi 0,54 persen dengan andil 0,03 persen. Adapun inflasi perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,42 persen dengan andil 0,10 persen. 

    Baca: Setelah 2 Bulan Deflasi, BI Prediksi Inflasi Oktober 3,05 Persen

    Adapun, inflasi inti per Oktober 2018 tercatat sebesar 0,29 persen dengan andil 0,17 persen. Akibat penyesuaian harga BBM, harga diatur pemerintah atau administered prices tercatat 0,32 persen dan andilnya 0,07 persen.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Baru E - Commerce yang Tertuang dalam PP PMSE

    Pemerintah resmi menerbitkan regulasi tentang e-commerce yang tertuang dalam PP PMSE. Apa yang penting dalam aturan baru tersebut?