PLN Rugi Rp 18 T, Dirut Sofyan Basir Klaim Arus Kas PLN Kuat

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir menjawab pertanyaan wartawan dalam konferensi pers di kantor pusat PLN, Jakarta, Senin, 16 Juli 2018. Dalam kesempatan tersebut, Sofyan Basir menjelaskan penggeledahan rumahnya oleh penyidik KPK terkait dengan pengembangan kasus dugaan suap proyek PLTU Riau 1 yang melibatkan Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih dan pihak swasta. TEMPO/Tony Hartawan

    Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir menjawab pertanyaan wartawan dalam konferensi pers di kantor pusat PLN, Jakarta, Senin, 16 Juli 2018. Dalam kesempatan tersebut, Sofyan Basir menjelaskan penggeledahan rumahnya oleh penyidik KPK terkait dengan pengembangan kasus dugaan suap proyek PLTU Riau 1 yang melibatkan Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih dan pihak swasta. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Sofyan Basir mengklaim arus kas perseroan masih kuat kendati PLN merugi Rp 18 triliun pada kuartal III 2018.

    Baca juga: PLN Terbitkan Global Bond Senilai USD 1,5 Miliar

    Sofyan mengatakan PLN mengalami kerugian dalam hal pembukuan, bukan secara operasional. "Kita secara usaha, secara operasional, itu untung. Oleh karena itu, likuiditas kuat, nggak ada masalah," kata Sofyan ditemui di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, 31 Oktober 2018.

    Sofyan menjelaskan PLN tidak rugi secara riil atau operasional, melainkan hanya rugi secara pembukuan. Menurutnya, kerugian secara pembukuan berbeda dibandingkan dengan kerugian operasional. Sofyan menegaskan arus kas PLN tidak terganggu.

    "Yang saya bilang rugi itu pembukuan, itu kan ada kita punya utang, misal utang dolar. Kan hari ini nggak dieksekusi utangnya, enggak dilunasi, cuma karena ada selisih kurs, kita bukukan ke kerugian," kata Sofyan yang mengilustrasikan utang itu akan dibayar 20 tahun lagi.

    PLN merugi hingga Rp 18,46 triliun pada kuartal III 2018 karena peningkatan beban operasi, terutama selisih nilai tukar. Berdasarkan laporan keuangan PLN pada kuartal III/2018 yang dirilis Selasa, rugi kurs mendominasi hingga Rp 17,32 triliun. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, kerugian dari selisih kurs hanya sebesar Rp 2,2 triliun.

    Terkait arus kas, Sofyan mengatakan perseroan telah menerbitkan obligasi global senilai US$1,5 miliar beberapa waktu lalu. Obligasi global itu diterbitkan dalam mata uang dolar Amerika Serikat dan Euro.

    "Jadi kita punya US$1,5 miliar buat 'nutup'. Untuk memperpanjang reprofiling, kita mundurkan jauh, sehingga cashflow kita masih kuat. Kita masih surplus US$500 juta. Jadi keuangan PLN tidak punya masalah sama cashflow, kewajiban-kewajiban bisa diselesaikan," kata Sofyan Basir.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sidang MK Terkait Sengketa Pilpres 2019 Berlangsung Dua Pekan

    Sidang MK terkait sengketa Pilpres 2019 memasuki tahap akhir. Majelis hakim konstitusi akan membacakan putusannya pada 27 Juni. Ini kronologinya.