Lion Air Jatuh, BMKG: Tak Ada Masalah Cuaca

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lion Air. TEMPO/Iqbal Lubis

    Lion Air. TEMPO/Iqbal Lubis

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan tidak ada masalah cuaca yang terjadi, baik sebelum atau saat kecelakaan pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 610 rute Jakarta-Pangkalpinang. Pesawat tersebut dikabarkan hilang kontak saat lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta pukul 06.10 tadi.

    Baca: Lion Air Jatuh, Ini Jadwal Terbang Pesawat dalam 14 Hari Terakhir

    Kepala  BMKG Dwikorita Karnawati menuturkan jumlah awan menjelang dan setelah kejadian relatif sedikit. Adapun jenis awan yang menggelayut pada saat itu adalah awan kumulus. "Tidak terdeteksi adanya awan-awan Cb (kumulonimbus) yang berbahaya bagi penerbangan pada rute penerbangan tersebut," ujar Dwikorita kepada Tempo, Senin, 29 Oktober 2018.

    Selain itu, Dwikorita menuturkan kondisi angin relatif tidak kencang pada ketinggian 5.000 hingga 39 ribu kaki. Adapun pesawat Lion Air JT 610 dikabarkan hilang kontak pada ketinggian di bawah 10 ribu kaki.

    Sementara itu, arah angin tercatat bervariasi dari arah selatan dan barat. "Kecepatan angin relatif tidak kencang. Tidak ada kondisi cuaca signifikan sepanjang rute penerbangan," ucap Dwikorita. 

    Pesawat Lion Air JT 610 rute Jakarta-Pangkalpinang dikabarkan hilang kontak saat lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta pukul 06.10 tadi. Pesawat itu dipastikan jatuh di dekat wilayah anak usaha PT Pertamina (Persero), Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ), di lepas pantai di utara Bekasi, Jawa Barat. 

    Baca: Pesawat Lion Air Jatuh, Manajemen: Kami Sangat Prihatin

    Pesawat Lion Air tersebut dijadwalkan tiba di Bandara Depati Amir pukul 07.20. Setidaknya ada 181 penumpang dalam rute penerbangan tersebut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Beda Kerusuhan Mei 2019 dengan Kengerian di Ibu Kota 1998

    Kerusuhan di Jakarta pada bulan Mei terjadi lagi, namun kejadian di 2019 berbeda dengan 1998. Simak kengerian di ibu kota pada akhir Orde Baru itu.