Setelah 2 Bulan Deflasi, BI Prediksi Inflasi Oktober 3,05 Persen

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo ditemui usai mengikuti salat Jumat di Kompleks Bank Indonesia, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat, 19 Oktober 2018. TEMPO/Dias Prasongko

    Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo ditemui usai mengikuti salat Jumat di Kompleks Bank Indonesia, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat, 19 Oktober 2018. TEMPO/Dias Prasongko

    TEMPO.CO, Jakarta - Setelah dua bulan terakhir terjadi deflasi, kini Bank Indonesia (BI) memprediksi Oktober 2018 akan terjadi inflasi sebesar 0,17 month-to-month (mtm) dan 3,05 persen year-on-year (yoy). Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, perkiraan inflasi Oktober 2018 ini masih tetap rendah dan terkendali sesuai sasaran pemerintah.

    Baca: Jokowi: Percuma Ekonomi Tumbuh tapi Inflasi Tinggi

    "Perkiraan kami, akhir tahun ini inflasi akan berada di bawah 3,5 persen yoy atau di bawah titik tengah dari sasaran 3,5 plus minus 1 persen," kata Perry di di Kantor BI, Jakarta Pusat, Jumat, 26 Oktober 2018.

    Perry menjelaskan, ada beberapa penyumbang terbesar inflasi pada bulan ini yaitu harga cabe merah yang memberikan andil inflasi 0,08 persen, bensin 0,03 persen, emas perhiasan 0,02 persen, dan cabe rawit 0,01 persen. Tapi di sisi lain, kata dia, juga terjadi deflasi yaitu pada telur ayam ras 0,03, daging ayam ras 0,02, dan bawang merah 0,02 persen.

    Sebelumnya pada Agustus dan September 2018, Indonesia tercatat mengalami deflasi bulanan sebesar 0,05 persen dan 0,18 persen.
    Deflasi di kedua bulan itu terjadi salah satunya akibat penurunan harga makanan. Sementara, Inflasi terakhir tercatat terjadi pada Juli 2018 sebesar 0,28 persen.

    Dari catatan BPS, cabe merah dan cabe rawit sebenarnya masih menjadi penyumbang deflasi pada Agustus dan September 2018. Tapi menurut perkiraan BI ini, kedua komoditas ini mulai mengalami kenaikan harga dan menyumbang inflasi Oktober 2018. Hasil tersebut didapar BI dari survei dan pemantauan di pasaran hingga minggu keempat bulan ini.

    Pada September 2018, BPS mencatat sejumlah harga makanan yang menyumbang deflasi. Beberapa di antaranya yaitu daging ayam ras 0,13 persen, bawang merah 0,05 persen, ikan segar 0,04 persen, cabai merah dan telur ayam 0,03 persen, serta cabai rawit 0,02 persen.

    Sementara pada Agustus 2018, beberapa komoditas yang menyumbang deflasi adalah telur ayam 0,06 persen, bawang merah 0,05 persen), cabai merah dan cabai rawit 0,02 persen, lalu sayur-sayuran 0,01 persen.

    Perry mengatakan, inflasi memang biasanya mulai meningkat beberapa bulan ke depan karena beberapa agenda seperti Natal dan liburan. "Biasa ada kenaikan akhir tahun," ujarnya. Tapi, kata dia, BI memastikan angka inflasi ini akan tetap rendah dan terkendali hingga akhir tahun ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.