Kamis, 15 November 2018

Inalum Dapatkan Rating Baa2 atau Stabil dari Moody's

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • CEO Freeport Richard Adkerson dan Dirut Inalum Budi Gunadi Sadikin berbincang saat penandatanganan sejumlah perjanjian sebagai kelanjutan dari Pokok-pokok Perjanjian (Head of Agreement) terkait dengan penjualan saham FCX dan hak partisipasi Rio Tinto di PT Freeport Indonesia (PTFI) ke Inalum di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis, 27 September 2018. Tempo/Tony Hartawan

    CEO Freeport Richard Adkerson dan Dirut Inalum Budi Gunadi Sadikin berbincang saat penandatanganan sejumlah perjanjian sebagai kelanjutan dari Pokok-pokok Perjanjian (Head of Agreement) terkait dengan penjualan saham FCX dan hak partisipasi Rio Tinto di PT Freeport Indonesia (PTFI) ke Inalum di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis, 27 September 2018. Tempo/Tony Hartawan

    Jakarta - Lembaga pemeringkat Moody's Investor Service atau Moody's memberikan peringkat penerbit Baa2 kepada Perusahaan PT Indonesia Asahan Alumunium (Persero) atau Inalum. Rating Baa2 juga diberikan kepada perusahaan mengenai proposed senior unsecured notes kepada Inalum.

    Baca juga: Inalum: Tak Ada yang Bisa Batalkan Divestasi Freeport

    "Pandangan (outlook) tentang rating Baa2 (artinya) stabil. Ini adalah pertama kalinya Moody's memberikan peringkat kepada Inalum," seperti dikutip dari Laporan Moody's yang dipublikasikan melalui laman resmi pada Jumat, 26 Oktober 2018.

    Adapun, peringkat penerbit Inalum Baa2 mencerminkan penerapan metodologi rating yang dilakukan Moody untuk penerbit yang terkait dengan pemerintah dan telah diterbitkan pada Juni 2018. Metodologi ini menggabungkan dua aspek. Keduanya adalah penilaian kredit baseline ba2 (BCA) dan peningkatan tiga tingkat berdasarkan harapan Moody's tentang kemungkinan dukungan luar biasa yang besar bagi perusahaan dari pemerintah Indonesia (Baa2 stabil) pada saat dibutuhkan.

    "Arti Ba2 BCA Inalum ini, menggambarkan diversifikasi portofolio dari pertambangan milik Inalum di berbagai komoditas seperti batubara, emas, nikel, timah, tembaga dan aluminium, serta biayanya yang rendah, operasi yang kompetitif secara global," kata Brian Grieser, Wakil Presiden dan Pejabat Kredit Senior Moody's dalam rilis yang sama.

    Adapun Inalum adalah perusahaan holding milik negara yang berupa Badan Usaha Milik Negara dan menaungi berbagai perusahaan tambang milik negara. Pemerintah telah menunjuk Inalum untuk menjadi pemegang saham terbesar yang mengelola tambang milik PT Freeport Indonesia (PTFI) setelah sebelumnya, Pemerintah Indonesia melakukan akuisisi 51 persen besar saham PT FI senilai USD 3-4 juta dolar atau senilai Rp 56 triliun.

    Grieser mengatakan Inalum akan mendapat manfaat dari skala operasi PTFI, yang menambang tambang tembaga terbesar kedua di dunia dan tambang emas terbesar di Grasberg. Namun, lanjut dia, risiko kredit akan meningkat karena peningkatan yang cukup besar dalam leverage keuangan dan proyek perluasan modal yang kompleks di PTFI.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Horor Pembunuhan Satu Keluarga Di Bekasi

    Satu keluarga dibunuh di Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, pada Selasa, 12 November 2018.