Rabu, 21 November 2018

3 Subsektor Ekonomi Kreatif Unggulan RI: Fashion, Kuliner, Kriya

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo saat buka puasa bersama wartawan di gedung Djuanda I Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa, 5 Juni 2018. TEMPO/Hendartyo Hanggi

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo saat buka puasa bersama wartawan di gedung Djuanda I Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa, 5 Juni 2018. TEMPO/Hendartyo Hanggi

    TEMPO.CO, Banda Aceh - Wakil Menteri Keuangan Prof Mardiasmo menyinggung soal ekonomi kreatif dalam kuliah umum bertema Industri Kreatif di Era Bisnis Digital di Gedung AAC Dayan Dawood Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh, Rabu 24 Oktober 2018.

    Baca juga: Kontribusi Ekonomi Kreatif terhadap Ekonomi Nasional 7,57 Persen

    Mardiasmo menyebutkan ada 16 subsektor ekonomi kreatif yang saat ini dijalankan di Indonesia. Namun, ada tiga yang menjadi unggulan, yaitu fashion, kuliner, dan kriya. Dari jumlah ini, 54,96 persen dilakukan oleh kaum perempuan. Sementara subsektor yang mengalami perkembangan signifikan, yaitu aplikasi games, film, dan musik.

    Menurutnya, ekonomi kreatif memberikan dampak sosial paling luas dalam menyejahterakan masyarakat. Hal ini dikarenakan sektor ekonomi kreatif dapat digeluti siapa saja tanpa memerlukan modal besar. Ekonomi kreatif jugadapat dilakukan di mana saja tanpa memandang batas usia.

    Mardiasmo mengatakan ekonomi kreatif dapat menumbuhkan citra positif bangsa serta meningkatkan pendapatan negara. Hal ini terlihat saat penyelenggaraan Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang yang memberikan manfaat besar. Saat itu banyak bisnis kreatif bermunculan, seperti merchandise, kuliner, musik, video, dan konten kreatif lainnya. “Terpenting dalam menjalankan ekonomi kreatif harus selalu mengedepankan inovasi dan kreativitas.”

    Rektor Unsyiah Prof. Samsul Rizal mengatakan industri ekonomi kreatif secara nasional telah mengalami pertumbuhan positif dalam tiga tahun terakhir. Ia mengutip data nasional Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang memprediksikan tahun 2018, sumbangan industri ini terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) lebih di atas Rp 1.000 triliun.

    Pada skala global, nilai ekonomi industri kreatif mampu melampaui industri perminyakan. Bahkan, para ekonom memprediksikan jika ke depan, ekonomi global akan bergantung kepada sektor industri kreatif.

    “Penggunaan teknologi digital dalam mengembangkan industri kreatif Indonesia, dapat mengangkat persaingan bangsa secara global dan membangun rasa bangga di dalam negeri.”

    Samsul juga menambahkan jika Unsyiah berkomitmen melahirkan lulusan yang mampu berkontribusi dalam industri ekonomi kreatif. Hal ini diwujudkan dengan upaya membuka program studi baru Magister Eco-Technopreneurship. Progam studi ini diproyeksikan untuk menjawab tantangan revolusi industri 4.0.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komposisi Utang Merpati Nusantara Airlines

    Asa bisnis Merpati Nusantara Airlines mengembang menyusul putusan Pengadilan Niaga Surabaya yang mengabulkan penundaan kewajiban pembayaran utang.