Triwulan III 2018, 76,9 Persen Kredit BRI Diserap UMKM

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pada hari ini, Senin, 1 Oktober 2018 mesin ATM BRI di beberapa lokasi di Palu sudah beroperasi melayani kebutuhan transaksi para nasabah. (dok Bank BRI)

    Pada hari ini, Senin, 1 Oktober 2018 mesin ATM BRI di beberapa lokasi di Palu sudah beroperasi melayani kebutuhan transaksi para nasabah. (dok Bank BRI)

    TEMPO.CO, Jakarta - PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) atau BRI Tbk telah menyalurkan kredit sebesar Rp 808,9 triliun atau naik sebesar 16,5 persen dibandingkan periode sebelumnya sebesar Rp 694,2 triliun. Angka ini, kata Direktur Keuangan Bank BRI Haru Koesmahargyo, lebih tinggi daripada pertumbuhan kredit perbankan nasional pada September 2018 sebesar 12,6 persen.

    Baca: Bank BRI Luncurkan Aplikasi My QR di Solo

    Dari sisi komposisi kredit, kata Haru, Bank BRI meningkatkan penyaluran kredit ke segmen UMKM. Kredit senilai Rp 621,8 triliun atau sekitar 76,9 persen dari total kredit BRI disalurkan ke segmen UMKM hingga akhir September 2018.

    "Secara year on year, kredit ke segmen UMKM tumbuh 16,5 persen. Ini bukti komitmen BRI untuk terus memberdayakan UMKM di Indonesia," ujar Haru dalam keterangan tertulis, Rabu, 24 Oktober 2018. 

    Haru mengatakan perseroan mampu meraup laba bersih sebesar Rp 23,5 triliun, tumbuh 14,6 persen year on year dibandingkan laba pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 20,5 triliun.

    Sedangkan untuk aset, kaya Haru, secara konsolidasi Bank BRI per Triwulan III 2018 tercatat sebesar Rp 1.183,4 Triliun, naik 13,9 persen year on year.

    "Kinerja ini disokong oleh penyaluran kredit yang tumbuh diatas rata-rata industri perbankan Indonesia," kata Haru.

    Menurut dia akselerasi penyaluran kredit mampu diimbangi BRI dengan tetap menjaga kualitas kredit yang disalurkan. Ini terlihat dari rasio kredit bermasalah, yakni NPL Gross BRI, yang tercatat sebesar 2,5 persen. Haru mengatakan NPL BRI tercatat lebih kecil daripada NPL industri, di mana NPL industri perbankan di Indonesia berada di kisaran 2,7 persen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.