Perusahaan Fintech Ini Bidik Pembiayaan UMKM di Bali

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah penyandang disabilitas tuna rungu dari sanggar Sandi Muni Kumara mementaskan Tari Kupu-Kupu saat acara corporate responsibility rangkaian Maybank Bali Marathon di Taman Bhagawan, Tanjung Benoa, Bali, 26 Agustus 2017. Maybank Foundation meluncurkan program RISE, yaitu program pembinaan kewirausahaan kepada penyandang disabilitas sebanyak 65 penyandang disabilitas dengan tujuan meningkatkan kapabilitas UMKM dan memberikan dampak positif bagi komunitas sekitar. Johannes P. Christo

    Sejumlah penyandang disabilitas tuna rungu dari sanggar Sandi Muni Kumara mementaskan Tari Kupu-Kupu saat acara corporate responsibility rangkaian Maybank Bali Marathon di Taman Bhagawan, Tanjung Benoa, Bali, 26 Agustus 2017. Maybank Foundation meluncurkan program RISE, yaitu program pembinaan kewirausahaan kepada penyandang disabilitas sebanyak 65 penyandang disabilitas dengan tujuan meningkatkan kapabilitas UMKM dan memberikan dampak positif bagi komunitas sekitar. Johannes P. Christo

    TEMPO.CO, Jakarta -Perusahaan pinjam meminjam dana dalam jaringan berbasis aplikasi atau Fintech RupiahPlus membidik pembiayaan usaha mikro kecil menengah di Bali karena pertumbuhan yang tinggi di sektor tersebut seiring dengan industri pariwisata yang berkembang pesat.

    BACA: Fintech Mulai Masuk Pedesaan, OJK Imbau BPR untuk Kompetitif

    "Kami melihat potensi UMKM di Bali besar sehingga itu menjadi fokus apalagi ketaatan pembayaran nasabah di Pulau Dewata menduduki posisi teratas," kata Kepala Komunikasi Korporasi RupiahPlus Randy Salim menjelang pelaksanaan "Fintech Day" di Kuta, Kabupaten Badung, Rabu, 24 Oktober 2018.

    Menurut dia, sejak berdiri April 2017, perusahaan "fintech" daring itu sudah menyalurkan pembiayaan di Bali sebesar Rp 4,5 miliar kepada sekitar 10 ribu peminjam hingga Oktober 2018, jumlah yang dinilai cukup besar bagi perusahaan baru itu.

    Peminjam dari kalangan pelaku usaha mikro kecil menengah atau UMKM menjadi nasabah terbesar di Bali dengan porsi sekitar 35 persen yang digunakan untuk modal bisnis.

    BACA: OJK: Penyaluran Pinjaman Lewat Fintech Bisa Tembus Rp 20 Triliun

    Sisanya, lanjut dia, pembiayaan kebanyakan digunakan untuk pendidikan, medis dan kebutuhan sehari-hari. Sosialisasi, kata dia, selama ini dilakukan melalui wadah media sosial seperti instagram, facebook dan wadah media sosial lainnya.

    Untuk pertama kalinya pihaknya "turun gunung" di Bali untuk memperbesar cakupan pasar melalui sosialisasi "Fintech Day" yang diselenggarakan Otoritas Jasa Keuangan di beberapa titik di Denpasar dan Kuta, 25-27 Oktober 2018.

    Sementara itu secara nasional, Randy mencatat total pembiayaan yang disalurkan kepada nasabah mencapai Rp 2,5 triliun sejak April 2017 hingga Oktober 2018 dengan total nasabah mencapai sekitar 805 ribu orang. Perusahaan "fintech" yang diawasi OJK itu merupakan salah satu wadah kredit tanpa jaminan yang dapat diajukan sepenuhnya melalui aplikasi di telepon seluler dan kini sudah hadir di 488 kota dan kabupaten di Indonesia.

    Pengajuan pinjaman dilakukan hanya dengan mengunggah KTP tanpa adanya jaminan melalui aplikasi "fintech" itu yang dapat diunduh "playstore".

    Adapun besaran pinjaman yakni sebesar Rp 800 ribu atau Rp1,5 juta dengan masa pengembalian selama 14 hari dan bunga mencapai 0,05 persen. Randy menyebutkan angka kredit bermasalah selama ini masih dalam kisaran wajar yakni berkisar 4 persen.

    "Kami menggunakan mekanisme otomatis untuk meninjau pengajuan pinjaman dan apabila memenuhi syarat, cuma dibutuhkan 20 menit untuk mencairkan pinjaman," katanya.

    Baca berita tentang Fintech lainnya di Tempo.co.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.