BPS: Metode KSA Belum Digunakan untuk Komoditas Selain Padi

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Beras impor asal Thailand beredar di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta, 20 Februari 2015. Bulog memastikan tak akan impor beras tahun 2015. Sebab harga beras pada 2015, diyakini tidak akan terlalu bergejolak karena produksi berlimpah. TEMPO/Subekti

    Beras impor asal Thailand beredar di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta, 20 Februari 2015. Bulog memastikan tak akan impor beras tahun 2015. Sebab harga beras pada 2015, diyakini tidak akan terlalu bergejolak karena produksi berlimpah. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS, Suhariyanto mengatakan lembaganya belum memiliki rencana menggunakan metode baru kerangka sampel area atau KSA untuk diterapkan pada komoditas lain. Menurut dia, metode ini hanya akan digunakan untuk melakukan perhitungan beras/padi.

    "Saya minta kasih waktu untuk bernapas dahulu, karena sudah sejak tahun 2016. Ada harapan ke sana tapi nanti kita lihat," kata Suhariyanto saat mengelar konferensi pers di kantor BPS, Jakarta Pusat, Rabu, 24 Oktober 2018.

    Hari ini BPS telah mengumumkan data baru mengenai Luas Panen dan Produksi Padi di Indonesia 2018. Data ini dikeluarkan dengan menggunakan perbaikan metodologi perhitungan data produksi beras melalui metode kerangka sampel area atau KSA.

    Adapun data dan metode baru ini, merupakan hasil kerjasama antara BPS bersama dengan lembaga lain seperti BPPT, LAPAN dan BIG. Salah satu hal yang baru dari penyusunan menggunakan KSA ini adalah digunakakanya pencitraan satelit termuthakir untuk mengukur luas lahan baku tanah.

    Suhariyanto mengatakan proses hingga saat ini verifikasi data untuk luas lahan baku sawah telah dilalukan pada di 16 provinsi sentra produksi padi. Dari verifikasi itu sebanyak 87 persen luas lahan baku sawah di Indonesia telah berhasil dipetakan.

    Sedangkan luas bahan baku sisanya ditargetkan selesai pada akhir tahun 2018. Hasilnya, luas baku lahan sawah yang berhasil diverifikasi sejauh ini mencapai 7,1 juta hektare dari semula 7,5 juta hektare.

    Direktur Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Wilayah, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Yudi Anantasena mengatakan untuk tahun depan lembaganya tengah mengembangkan dengan menggunakan metode yang sama digunakan untuk komoditas jagung. Namun, kata Yudi, jika digunakan untuk komoditas lain, penggunaan metode ini perlu dilakukan penyesuaian.

    "Misalnya, untuk padi, luas baku sawah itu jelas. Sedangkan kalau jagung itu beda. Kebiasaan petani menanam jagung dan pagi berbeda," kata Yudi dalam acara yang sama, Rabu.

    Yudi menambahkan, rencana tersebut akan mulai dilakukan pada 2019. Dia mengatakan lembaganya bakal melakukan pilot proyek terlebih dahulu mengenai kemungkinan digunakan untuk komoditas lain khususnya jagung.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspadai Komplikasi Darah Akibat Covid-19

    Komplikasi darah juga dapat muncul pasca terinfeksi Covid-19. Lakukan pemeriksaan preventif, bahan ketiksa sudah sembuh.