JK: Bukan Hanya Mentan, Saya Juga Salah Soal Data Beras!

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Jusuf Kalla tiba saat menghadiri pembukaan KTT Asia-Europe Meeting (ASEM) Ke-12 di Brussels, Belgia, 18 Oktober 2018. KTT ASEM Ke-12 mengangkat tema

    Wakil Presiden Jusuf Kalla tiba saat menghadiri pembukaan KTT Asia-Europe Meeting (ASEM) Ke-12 di Brussels, Belgia, 18 Oktober 2018. KTT ASEM Ke-12 mengangkat tema "Europe and Asia: Global Partners for Global Challenges". REUTERS/Yves Herman

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla tidak akan menghukum Menteri Pertanian Amran Sulaiman terkait kekeliruan data soal beras. Menurut dia kekeliruan ini kesalahan banyak pihak.

    Baca juga: Darmin Nasution: Data Proyeksi Beras Kementan Sering Meleset

    "Data itu kesalahan bersama, bukan kesalahan Menteri Pertanian saja. Kesalahan BPS juga, kesalahan Kementerian Agraria juga, kesalahan Kementan juga, kesalahan bupati juga, kesalahan bersama ini," kata JK di kantornya, Jakarta, Selasa, 23 Oktober 2018.

    JK mengaku turut bertanggung jawab atas data beras yang tak akurat. "Saya termasuk salah juga sebagai Wakil Presiden yang lalu tidak segera mengevaluasi," katanya.

    Dia mengatakan, data tentang beras keliru sejak 20 tahun lalu. Setiap tahunnya, kondisi di lapangan dengan data yang diproduksi pemerintah semakin jomplang. Padahal banyak ahli pertanian yang sudah menyuarakan kekeliruan data tersebut.

    Untuk menebusnya, pemerintah berupaya memperbaiki penghitungan data tentang beras sejak tiga tahun lalu. Pemerintah menyempurnakan penghitungan dengan menggunakan metode kerangka sampel area (KSA). Metode ini hasil kerjasama Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian ATR, Badan Informasi Geospasial (BIG), dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

    Kementerian ATR berperan melakukan perhitungan luas lahan baku sawah nasional, dibantu oleh BIG dan LAPAN. BPS dan BPPT kemudian menghitung luas panen. Setelahnya BPS menghitung produktivitas per hektar dan konversi gabah kering menjadi beras

    Menurut JK, penghitungan ini dilakukan dengan memanfaatkan citra satelit. "Setelahnya dicek lagi ke lapangan," kata dia.

    Melalui metode tersebut, JK mengklaim pemerintah kini memiliki data yang lebih akurat. Kementerian ATR telah menetapkan luas lahan baku sawah nasional pada 2018 seluas 7,1 juta hektare.

    Sampai dengan bulan September 2018, luas lahan panen adalah sebesar 9,5 juta hektare. Dengan memperhitungkan potensi sampai Desember 2018, maka luas panen tahun 2018 diperkirakan mencapai 10,9 juta hektare.

    Produksi gabah kering giling atau GKG tercatat mencapai 49,65 juta ton sampai September 2018. Total produksi GKG 2018 diprediksi sebesar 56,54 juta ton atau setara dengan 32,42 juta ton beras hingga akhir tahun.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ashraf Sinclair dan Selebritas yang Kena Serangan Jantung

    Selain Ashraf Sinclair, ada beberapa tokoh dari dunia hiburan dan bersinggungan dengan olah raga juga meninggal dunia karena serangan jantung.