Selasa, 13 November 2018

4 Tahun Jokowi, Pengelolaan Utang Diklaim Lebih Sehat

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (kanan) menerima foto dari Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution (kiri) disaksikan Deputi Bidang Koordinasi Percepatan Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Kemenko Perekonomian Wahyu Utomo (kanan) usai mengunjungi pameran pemenang lomba foto pembangunan infrastruktur di Monumen Nasional, Jakarta, 27 Agustus 2017. Lomba ini bertema

    Presiden Joko Widodo (kanan) menerima foto dari Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution (kiri) disaksikan Deputi Bidang Koordinasi Percepatan Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Kemenko Perekonomian Wahyu Utomo (kanan) usai mengunjungi pameran pemenang lomba foto pembangunan infrastruktur di Monumen Nasional, Jakarta, 27 Agustus 2017. Lomba ini bertema "Di Darat, Laut, dan Udara Infrastruktur Kita Bangun". ANTARA/Galih Pradipta

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah mengklaim sepanjang empat tahun pemerintahan Jokowi - Jusuf Kalla, pengelolaan utang dilakukan lebih sehat. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyebutkan meski secara sepintas tren angka utang pemerintah terlihat naik, sebetulnya ada kalanya mengalami perlambatan.

    Baca: Jokowi Kucurkan Rp 400 Triliun Danai Infrastruktur 2018

    "Banyak yang mengkritik utang zaman sekarang pertumbuhannya tinggi, padahal kita ada naiknya, tapi ada turunnya," ujar Darmin di Kantor Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta, Selasa, 23 Oktober 2018.

    Berdasarkan grafik utang luar negeri yang ditunjukkan Darmin, tampak sejak tahun 2014 nominal utang luar negeri pemerintah terus bertumbuh. Misalnya, pada 2014 nominal utang berada di US$ 293,33 miliar.

    Angka itu naik ke level US$ 310,73 miliar pada 2015, US$ 320,01 miliar pada 2016, dan US$ 352,96 miliar pada 2017. Sementara, hingga Agustus 2018, utang luar negeri pemerintah tercatat US$ 360,72 miliar.

    Namun, kalau dilihat berdasarkan pertumbuhannya, ternyata beberapa kali pertumbuhan utang itu mengalami pelambatan. Pelambatan terjadi pada periode 2014-2016. Tercatat pertumbuhan utang pada 2014 adalah 10,23 persen dan turun ke 5,93 persen pada 2015. Pertumbuhan itu turun lagi ke level 2,99 persen pada 2016.

    Pertumbuhan utang itu kembali naik pada 2017, yaitu mencapai 10,3 persen. Angka itu kembali melambat menjadi 5,14 persen hingga Agustus 2018. "Jadi ada tahun-tahun di mana pertumbuhannya turun, yaitu pada 2016, juga 2018," kata Darmin.

    Sebelumnya, kinerja Jokowi sepanjang empat tahun itu sempat dikritik oleh ekonom senior yang juga mantan menteri koordinator bidang kemaritiman Rizal Ramli. Rizal mengkritik sejumlah indikator ekonomi yang tak membaik.

    Baca: 4 Tahun Jokowi, Darmin: Pertumbuhan Ekonomi Naik Meski Pelan

    "Ini mah lucu banget  wong 3 tahun terakhir ekonomi mandeg di 5%, utang nambah Rp 1,47 T per hari, resiko makroekonomi naik 2 tahun terakhir, Ruipiah terpuruk dalam sejarah. Tim Ekonominya mediocre  kok berani2nya jual mimpi !" ujarnya melalui cuitan di akun Twitter, @RamliRizal, Jumat, 19 Oktober 2018. 

    Simak berita menarik lainnya terkait Jokowi hanya di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?