Tak Banyak Berubah,Kontribusi Industri Manufaktur Capai 20 Persen

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo bersama Menteri Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (kiri), Direktur Utama Pelindo II Elvyn G. Masassya (kedua kiri), Menteri BUMN Rini Soemarno (tengah), Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menekan tombol saat melepas ekspor produk manufaktur ke AS, dari pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 15 Mei 2018. Total volume barang yang diekspor mencapai 4.300 TEUs (Twenty Foot Equivalent Units) menggunakan Kapal CMA CGM Tage. TEMPO/Tony Hartawan

    Presiden Joko Widodo bersama Menteri Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (kiri), Direktur Utama Pelindo II Elvyn G. Masassya (kedua kiri), Menteri BUMN Rini Soemarno (tengah), Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menekan tombol saat melepas ekspor produk manufaktur ke AS, dari pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 15 Mei 2018. Total volume barang yang diekspor mencapai 4.300 TEUs (Twenty Foot Equivalent Units) menggunakan Kapal CMA CGM Tage. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan kontribusi industri manufaktur atau pengolahan dalam perekonomian nasional mencapai 20,4 persen. Dengan angka tersebut, kontribusi sektor manufaktur sebenarnya tak banyak berubah dari tahun 2017 yang mencapai 20,16 persen.

    BACA: Jokowi Ingin Industri Lokal Ekspor Alat Kesehatan ke Vietnam

    Dari angka 20,4 persen ini, 84 persennya disumbang dari industri pengolahan nonmigas. "Total kontribusi industri pengolahan nonmigas pada perekonomian adalah 17,7 persen," kata dia dalam acara Forum Medan Merdeka Barat 9 mengenai capaian 4 tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo - Jusuf Kalla di Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta Pusat, Selasa, 23 Oktober 2018.

    Sementara, Airlangga menambahkan, industri pengolahan nonmigas ini tumbuh 4,9 persen atau lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,27 persen pada kuartal II 2018. Kontribusi terbesar dari industri pengolahan nonmigas ini masih berasal dari industri makanan minuman sebesar 9 persen dan alat angkutan sebesar 3,8 persen.

    BACA: Bank Indonesia: Industri Pengolahan Tumbuh Ekspansif

    Pada awal 2018, Sekretariat Kabinet menyatakan bahwa kontribusi sektor manufaktur Indonesia masih menjadi yang tertinggi se-ASEAN. Tapi merujuk pada data United Nations Statistics Division pada tahun 2016 yang dikutip Setkab, kontribusi manufaktur Indonesia saat itu mampu menyumbangkan hingga mencapai 22 persen, lebih tinggi dari 20,4 persen.

    Meski demikian, sejumlah pihak menilai kontrubusi sektor manufaktur hingga 20,4 persen ini masih jauh dari ideal. Ekonom dari  Institute for Development of Economics and Finance atau INDEF, Bhima Yudhistira bahkan menyebut Indonesia mengalami deindustrialisasi sejak 2008. "Dari dulunya 26 persen, kini menjadi hanya 20 persen," kata dia seperti dikutip dari Antara, 29 Juni 2018.

    Calon wakil presiden Sandiaga Salahuddin Uno juga menilai bahwa kontribusi sektor manufaktur di Indonesia masih rendah. Menurut dia, kontribusi manufaktur memang harus bisa naik 10 persen lagi, menjadi 30 hingga 31 persen. "Kami akan kawal perbaikan ekonomi ini," ujarnya saat melakukan safari politik di Tangerang Selatan, 20 Oktober 2018.

    Tapi jauh sebelum itu, Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Kartika Wirjoatmodjo, mengakui sektor manufaktur belum menjadi primadona bagi investor. Kondisi tersebut juga ditambah oleh minimnya perusahaan di Indonesia yang fokus pada hilirisasi produk. "Saat ini lebih banyak investasi masuk ke maupun sawit," katanya, Rabu, 7 Februari 2018.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.