Kemenko Perekonomian: Zonasi KEK Perlu Dikaji Pasca Bencana

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Deputi VI Kemenko Perekonomian sekaligus Ketua Tim Pelaksana Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP) Wahyu Utomo (kedua kanan) dan Sekretaris Tim Pelaksana KPPIP Bastary Pandji Indra (kanan) memberikan keterangan saat konferensi pers disela-sela Pertemuan Tahunan IMF-World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Badung, Bali, Selasa 9 Oktober 2018. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf

    Deputi VI Kemenko Perekonomian sekaligus Ketua Tim Pelaksana Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP) Wahyu Utomo (kedua kanan) dan Sekretaris Tim Pelaksana KPPIP Bastary Pandji Indra (kanan) memberikan keterangan saat konferensi pers disela-sela Pertemuan Tahunan IMF-World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Badung, Bali, Selasa 9 Oktober 2018. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf

    TEMPO.CO, Jakarta - Rencana zonasi diperuntukkan untuk 12 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang sudah dan akan beroperasi di berbagai wilayah Indonesia perlu dikaji terkait dengan sejumlah bencana alam yang terjadi di Nusantara.

    Baca juga: Temuan LIPI: KEK Mandek Akibat Pajak Kurang Menarik

    "KEK berperan penting ketika suatu daerah terjadi bencana, maka KEK harus jadi kekuatan spesial untuk dapat menggerakkan perekonomian di daerah tersebut," kata Deputi Bidang Koordinasi Percepatan Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Wahyu Utomo, dalam acara Diseminasi Fasilitas Perdagangan Luar Negeri di Jakarta, Selasa, 23 Oktober 2018.

    Terkait dengan bencana gempa dan tsunami, Wahyu mengajak berbagai pihak memanfaatkan doa supaya masyarakat yang terkena bencana diberi kekuatan untuk mengangkat dan membangun kembali perekonomiannya di daerah-daerah tersebut.

    Ia menyadari bahwa Indonesia berada di kawasan cicin api sehingga mudah kembali terkena bencana. Hampir seluruh wilayah Nusantara pun memiliki tingkat risiko gempa yang cukup besar.

    Untuk itu, ujar dia, KEK bisa menjadi peran penting dalam menyadarkan pembangunan yang sadar akan kebencanaan mengingat pula berbagai kawasan rentan terhadap bencana alam.

    "Kita harus kaji ulang agar KEK dapat mempunyai daya tahan. Konstruksi yang dibangun di sana, demikian pula dengan zonasi peruntukkan perlu untuk dikaji kembali," katanya.

    Dengan demikian, kata Wahyu, maka KEK juga dapat menjadi lebih ramah terhadap alam dan memikirkan mitigasinya sehingga juga akan dapat meningkatkan ketahanan terhadap bencana alam ke depannya.

    Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag Oke Nurwan menyatakan pihaknya turut berduka cita atas bencana yang menimpa ibu pertiwi khususnya di Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Barat, di mana di dalam kedua wilayah tersebut terdapat KEK Palu dan KEK Mandalika.

    Pertemuan ini, menurut Oke Nurwan, merupakan upaya antara lain untuk melakukan sinkronisasi dan harmonisasi kinerja dan arah baik terkait pengelolaan KEK.

    Sebelumnya, Kementerian Perindustrian telah mengevaluasi dampak gempa yang terjadi di Palu, Sulawesi Tengah, terhadap industri setempat, mengingat terdapat Rumah Cokelat dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

    "Bagi perindustrian, di sana ada Rumah Cokelat yang merupakan pusat inovasi cokelat dan KEK Palu, itu termasuk terdampak. Nanti kita evaluasi dampak dari gempa," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Jakarta, Selasa (2/10).

    KEK Palu berada di lahan seluas 15.000 hektare, dengan pengembangan per tahun 2017 terealisasi hingga 482 hektare. Kawasan itu ditargetkan bisa menggaet investasi senilai Rp12,5 triliun, dan hingga Juli 2017 realisasinya mencapai Rp115 miliar.

    Kawasan ini menjadi salah satu KEK yang berada di lokasi strategis karena berada di wilayah utara-selatan Alur Laut Kepulauan Indonesia.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.