Viral Freeport, Inalum Buka-bukaan Soal Divestasi Saham

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga saat melakukan aktifitas dulang emas dari air pembuangan limbah tailling PT Freeport yang mengalir melalui Sungai Otomona, Mil 38, Kualakencana, Timika Papua, 28 Oktober 2016. TEMPO/Subekti

    Warga saat melakukan aktifitas dulang emas dari air pembuangan limbah tailling PT Freeport yang mengalir melalui Sungai Otomona, Mil 38, Kualakencana, Timika Papua, 28 Oktober 2016. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Divestasi saham perusahaan pertambangan Freeport Indonesia oleh pemerintah RI masih menjadi kontroversi. Di media sosial, netizen mempersoalkan belum rampungnya divestasi saham Freeport.

    Baca: Demo ke Jakarta, Eks Karyawan Freeport Nabung Rp 1000 Tiap Hari

    Head of Corporate Communication Inalum Rendi Achmad Witular menjelaskan seputar proses divestasi Freeport. Dia mengatakan dalam sales and purchase agreement (SPA), sudah jelas pernyataan Inalum bahwa proses divestasi berlangsung hingga akhir 2018. Inalum tidak pernah mengklaim bahwa proses itu sudah selesai. Inalum juga sudah menyampaikan timeline proses tersebut kepada komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Rabu, 17 Oktober 2018.

    Dalam rapat dengan DPR tersebut Inalum menyampaikan beberapa hal yang masih perlu dilaksanakan dalam penyelesaian transaksi divestasi saham PTFI. Tahapan yang harus diselesaikan mulai dari memenuhi kondisi-kondisi prasyarat penyelesaian akuisisi saham Freeport, persiapan pendanaan, perubahan anggaran dasar PT Freeport Indonesia hingga penyelesaian transaksi divestasi saham Freeport Indonesia yang ditargetkan rampung pada Desember 2018.

    Rendi menjelaskan Inalum baru akan menguasai 51 persen saham Freeport setelah ada pembayaran US$ 3,85 miliar. "Pembayaran baru akan kami lakukan November. Kami sedang mencari pembiayaan yang murah," kata Rendi. "Jadi kalau ada yang bilang divestasi belum, ya, kami sudah bilang dari awal bahwa prosesnya sampai akhir tahun".

    Rendi mengatakan proses pembayaran tersebut belum bisa dilakukan karena masih menunggu proses dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Seperti diketahui PT Freeport Indonesia masih terus menyelesaikan sejumlah persoalan lingkungan yang mengganjal proses pembayaran divestasi saham dari Inalum. Saat ini, Freeport harus menyelesaikan sejumlah rekomendasi perbaikan operasi dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan sanksi administratif terkait pembuangan limbah dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

    Ihwal pembiayaan, menurut Rendi, pihaknya belum bisa menjelaskan jumlah bank asing yang akan membiayai proses divestasi saham Freeport. "Untuk angkanya 11, 8, 6, 5 kami belum bisa buka, karena masih berubah-ubah. Tapi yang penting bukan berapa jumlah bank, melainkan dana US$ 3,85 miliar itu tersedia," ujar Rendi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Baru E - Commerce yang Tertuang dalam PP PMSE

    Pemerintah resmi menerbitkan regulasi tentang e-commerce yang tertuang dalam PP PMSE. Apa yang penting dalam aturan baru tersebut?